Kamis, 16 Februari 2017

Bersila di lapangan Santo Petrus…





Satu jam setelah saya tiba di Collegio Conforti di Roma (Rabu, 15 Februari 2017) saya langsung pergi menuju ke rumah generalat xaverian untuk mengambil buku yang dipesan oleh p. Mario. Dalam waktu duapuluh menit semua urusanku—dari menyalami sambil ngobrol dengan beberapa pastor yang kutemui sampai urusan mengambil buku—bisa langsung kelar. 

Begitu keluar dari rumah generalat saya belok kanan hendak menuju lapangan St. Petrus sebagaimana niatku sebelumnya. Sambil menurun saya sempat berkata pada diriku “Ah tidak ada gunanya saya ke sana karena sudah berulang kali saya menginjakkan kaki di tempat di mana terletak ikon lahiriah dari Gereja Katolik sedunia”. Sejenak saya menghentikan langkah dan berpikir ulang. Dalam sekejap mata kutemukan alasan kuat untuk maju terus. Yang jelas bukan karena nilai sejarah dari salah satu negara terkecil di dunia, bukan tertarik oleh kemegahan bangunannya dan bukan pula terdorong oleh keinginan untuk melihat Bapa Paus, karena saya tahu bukan jam yang tepat bagi beliau untuk memperlihatkan dirinya. Sebaliknya saya ingat mereka yang akan lahir dan persis itulah alasan mendasar mengapa saya melanjutkan perjalananku menuju Kota Vatikan. Saya berziarah untuk mendoakan mereka yang akan hadir di tengah-tengah kami. 

Ketika memasuki kompleks negara Vatikan ada banyak orang yang keluar dari lapangan Santo Petrus tapi jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah orang yang masih bertahan di tengah dan sekitar lapangan bersejarah ini. Saya termasuk salah satu yang akan menambah jumlah pengunjung ini meskipun saat saya memasukinya suasana gelap perlahan-lahan semakin kuat karena telah menunjukkan pukul tujuhbelas lebih duapuluhlima menit. Begitu masuk saya langsung mengambil beberapa foto di lorong pilar-pilar maupun memfoto lapangan yang diberi nama paus pertama dalam sejarah Gereja Katolik dari celah pilar-pilar ini. Hasil jepretanku memang tidak sungguh berkualitas dengan bermodalkan kamera ponsel SJ3 milikku namun saya tetap puas menikmati hasilnya. 

Saya kemudian memilih bersandar di sebuah pilar yang terletak tidak jauh dari menara yang ada di tengah lapangan Santo Petrus. Saya memilih duduk di situ karena sangat strategis sehingga saya bisa leluasa menghadap ke basilika. Sambil bersila saya menyampaikan niatku kepada Tuhan dengan perantaran doa Bunda Maria juga kedua santo, Petrus dan Paulus. Selama kurang lebih enampuluh lima menit saya bersemedi sambil berrosario untuk mendoakan secara khusus mereka yang akan lahir agar prosesnya lancar dan agar kesulitan yang sekarang dihadapi bisa menemukan jalan keluarnya. Sempat muncul dalam benakku untuk mengusulkan nama kedua santo besar ini untuk mereka yang akan memperkuat squadra keluarga kami. Tapi, soal itu adalah urusan yang kesekian!!! Kuingat pula nama-nama keluarga, teman dan kenalanku yang selama ini meminta untuk didoakan sesuai dengan intensi yang mereka inginkan. 

Duduk bersila selama enampuluh lima menit di lapangan St. Petrus tidak menimbulkan kram di pergelangan kakiku padalah duabelas tahun silam, selama aktif di Sersan M. Romy, waktu yang demikian sudah cukup untuk membuat seluruh kaki dan punggungku ‘mati’ rasa di hadapan Bunda Maria Sabuin. Tentu saja bukan tempat yang menimbulkan perbedaan rasa tapi apa yang melatarbelakanginya. Mendoakan-merindukan yang terbaik untuk orang lain (terutama untuk mereka yang akan lahir) menyita perhatianku sehingga keletihan fisik pun menjad tidak begitu penting. Semoga mereka yang akan hadir ini mampu menjadi pribadi yang baik seturut kebaikan Dia yang ada di balik kemegahan Basilika Santo Petrus ini. Sayangnya, banyak pengunjung yang datang ke tempat ini berhenti pada apa yang tampak secara fisik. Nah…kuajak mereka untuk menemukan hal esensial-spiritual ini dan memperlihatkannya dalam cara hidup mereka sebagaimana cahaya lampu dari Basilika mampu menyinari gelap di sekitar daerah Vatikan. 

Nella tua luce vediamo la luce”, mi sono detto concludendo.  

Selasa, 31 Januari 2017

Jejak sepatuku di Salerno…



Salerno, 7 Januari 2017


Untuk pertama kalinya saya bisa melihat jejak sepatuku di atas jalan yang sering kulalui sejak saya tiba di Salerno 14 Oktober 2016 lalu. Saya mengenalnya karena saya merupakan orang pertama yang melalui jalur ini tadi pagi. Hal yang baru bukanlah diriku, bukan aspal yang berubah dan bukan pula jejak kakiku melainkan salju yang memungkinkanku melihat jejakku. Ketika kuberjalan sepanjang jalan Fra Giacomo Acquviva hanya bekas kakiku saja yang ada, namun ketika saya sampai di persimpangan gereja Santo Paulus ternyata sudah ada jejak ban mobil dan motor. Bahkan ada sebuah motor yang berusaha melewati jalan bersalju, namun tidak berhasil bergerak sebagaimana mestinya dan memaksa pengendaranya turun untuk menuntun motor itu demi keselamatanya sendiri.

Tidak kubiarkan moment indah ini berlalu begitu saja tanpa mengabadikannya pertama-tama dengan mata telanjang: melihat sambil mengagumi salju yang bertebaran di mana-mana: di atas rumah, di atap mobil, di daun, di atas kursi, di atas tangga dan terutama di atas aspal termasuk di bukit Arecchi. Setelah itu kuambil handphoneku untuk memotret jejak kakiku di atas salju, mengambil dua video dengan harapan untuk disharekan ke teman-temanku nun jauh di asia sana. Saya senang melakukan ini meskipun sebenarnya tanganku menjadi sangat beku karena suhu yang dingin serta diterpa angin yang lumayan kencang.

Petualanganku pagi ini bukan demi salju melainkan demi tugas: pergi merayakan misa di komunitas suster para puteri gereja dengan jarak tempuh sepuluh sampai lima belas menit dalam kondisi normal. Namun hari ini saya membutuhkan waktu lebih dari tigapuluh menit: selain karena ‘bermain salju sambil narsis’ tapi juga karena berjalan di atas salju resikonya besar sekali. Hal itu saya rasakan ketika harus melewati jalan yang miring: konsentrasi harus terfokus karena harus memastikan langkah sebab ketika salah melangkahkan kaki maka konsekuensinya adalah terbelanting seperti ranting pohon yang jatuh. Tidak boleh menghayal saat jalan di atas salju apalagi mata belalak sana sini: itu alamatnya tidak lain dan tidak bukan adalah salah alamat; bisa-bisa berakhir di rumah sakit. Buah konsentrasiku sangat baik: saya tiba dengan sehat di kapel dan merayakan misa hanya dengan tiga suster.

Saat pulang situasinya lain: salju yang turun mulai berkurang, angin mulai mereda namun di beberapa tempat saljunya berubah menjadi beku dan mencair sehingga membuat jalan menjadi licin. Orang yang tidak hati-hati saat berjalan akan merasakan perihnya terjun bebas alias tergelincir. Itu memang nyata ketika saya sedang berusaha berjalan di jalan yang rata tapi sangat licin karena sudah banyak mobil yang melewati jalan itu. Dua meter dari hadapanku seorang laki-laki dewasa, kira-kira berumur di atas lima puluh tahun, dengan pakaiannya yang lumayan elegan, sedang berjalan beralawanan arah denganku. Dia sedang menatap tajam ke depan, penuh percaya diri sambil melangkahkan kaki, eh ternyata saat itu kaki kanannya meleset dan seluruh tubuhnya terjerembab ke tanah, dan itu terjadi hanya dalam sekejap mata. “Niente da fare” pensavo. Dalam hati saya berucap salah langkah dan jatuh memang normal, karena kesalahannya sendiri.

Tidak jauh sesudah itu saya menemukan hal yang lebih aneh, paling tidak menurutku. Saya sudah memasuki zona tempat tinggal kami, di daerah Irno. Saya sedang mendaki sebuah tanjakkan kecil ketika kudengar seorang laki-laki yang bilang, “ayo cepat, cepat. Jangan ke situ, itu sangat licin”. Saya, sambil jalan, saya berusaha mencari lawan bicara dari orang ini. Benar bahwa tidak ada orang lain di situ, yang ada hanya seekor anjing besar yang sedang dia temani. Eh ternyata orang ini sedang berbicara dengan anjingnya. Dalam hati saya berujar “ternyata dunia dongeng itu benar di mana binatang pun bisa diajak bicara”bahkan di dunia modern seperti italia.

Ternyata melihat orang berbicara dengan anjing bukanlah akhir dari keanehan yang kujumpai di hari bersalju, di Salerno lagi. Ada yang lebih buruk dan lebih tidak masuk akal di mana seorang ibu jatuh terjerembab karena berusaha berlari kecil mengikuti irama lari dari anjingnya. Anehnya: ada salju, jalan menurun dan lari karena ikut anjing yang sedang lari.

Dalam hati kecilku kuingat orang-orang di kampungku yang sangat penasaran mencari tahu bagaimana bentuknya salju dan apa yang bisa dibuat saat salju. Mereka sangat teliti mendengar rasa kagumku ketika saya melihat salju secara langsung. Mengingat hal itu saya pun berujar pasrah dalam hati, “Mereka pasti akan semakin merasa aneh melihat orang yang lari dan jatuh tergelincir di salju gara-gara anjing”.   

Sabtu, 31 Desember 2016

Missione è vocazione e scelta#



Mi chiamo Ferdinandus Supandri e sono rientrato in Italia il 14 ottobre 2016. Prima, ero in Indonesia, il mio paese natale, per le vacanze e soprattutto per ricevere l’ordinazione presbiterale il 30 agosto 2016.




Con e per i giovani…
I superiori mi hanno chiesto di venire qui a Salerno, per realizzare il sogno di san Guido Maria Conforti: “Fare del mondo una sola famiglia in Cristo”. Mi impegnerò nell’animazione missionaria e vocazionale.

È un lavoro che richiede tutto di me: tanta forza fisica e mentale e un cuore umile, pronto a essere arricchito, prima di tutto, dalla Parola vivente del Signore, dalle realtà in cui mi trovo e sarò aiutato anche dalle persone conquistate dall’impegno missionario di san Guido Conforti.

Mi permetterò di dire che lavorerò con e per i giovani, ravvivando in loro lo spirito missionario perché si sentano protagonisti, inviati da Dio all’interno della vita ecclesiale e umana.

Credo che una tra le numerose caratteristiche dei giovani sia l’entusiasmo della scoperta: scoprire se stessi, il senso, il dono e il disegno di Dio nella loro vita.

Perciò, mi auguro che anche la mia presenza possa aiutare a orientare i ragazzi a scoprire e sentire la presenza di Dio nella loro esistenza.  



# l’articolo è stato già pubblicato nei Missionari Saveriani di dicembre 2016

Rabu, 30 November 2016

Nunang Sebelas September Dua Ribu Enambelas…



Saya hendak mengabadikan salah satu moment penting dalam hidup saya yaitu misa perdanaku yang berlangsung di Paroki St. Mikael Nunang, Nunang, Wae Sano, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia pada tanggal 11 September 2016. Wajar kalau keluargaku, sahabat, kenalan, umat paroki Nunang, para konfrater Xaverian, dan semua yang hadir memusatkan perhatian kepadaku. Saya merasakan sungguh hal itu terjadi. Di lain pihak saya memusatkan perhatianku pada hal yang terkandung di balik kehadiran mereka: mereka datang untuk merayakan apa yang Tuhan kerjakan dalam hidupku melalui campur tangan mereka. Sebenarnya bukan saya yang menjadi obyek perhatian pada saat itu, melainkan terpusat pada rasa syukur karena Tuhan mendengar doa-doa kami. Di balik banyaknya umat yang hadir saya menangkap atau memetic sebuah pesan yang sangat mendalam dan sangat besar yaitu bahwa mereka datang mendoakan dan mendukung saya. Ini merupakan sebuah panggilan dan tugas yang perlu kuingat selalu dan perlu kujalani. Berikut ini saya lampirkan komentar yang kubuat sendiri untuk mengantar umat dalam mengikuti misa perdanaku. Di dalamnya terkandung pula makna yang kuberikan dari apa yang Tuhan limpahkan kepadaku.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Ibu, bapak, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, hari ini kita berkumpul untuk bersyukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang berlimpah kepada kita, terutama atas rahmat imamat yang Tuhan anugerahkan kepada anak, adik, saudara kita P. Ferdinandus Supandri, SX yang telah ditahbiskan menjadi pelayan Tuhan dan Gereja-Nya di Paroki Santo Fransiskus Asisi, Aek Nabara, pada tanggal 30 Agustus 2016 yang lalu oleh Monsignor Anicetus Bongsu Sinaga, Ofm.Cap, uskup Keuskupan Agung Medan.
           
Selama 11 tahun P. Yanto (atau kerap dipanggil Pandri oleh teman-temannya di komunitas Xaverian) telah merelakan dirinya dibimbing dan dibentuk oleh Tuhan lewat nasihat, didikan, contoh dari orang tua dan keluarganya, juga sahabat kenalan, para pastor dan para pendidik yang telah mendampinginya. P. Yanto meyakini bahwa rahmat imamat khusus yang beliau terima bukanlah hasil perjuangan pribadinya, bukan pula karena kepintarannya belaka, juga bukan karena beliau lebih dari yang lain; melainkan karena Tuhan mendengar dan merestui kerinduannya, juga mendengar doa-doa umat paroki Nunan
g. Tuhan telah memilihnya di antara kita untuk diutus kepada kita, umat-Nya, oleh karena itu mari kita bersama-sama bersyukur atas perhatian Tuhan terhadap Gereja-Nya yang masih berziarah di dunia ini. 
Sakramen imamat yang beliau terima bukanlah hal yang harus dibanggakan karena merupakan anugerah Tuhan yang harus disebarluaskan atau diwujudnyatakan kepada umat yang dia layani. Untuk itu di awal panggilannya sebagai pengudus umat, pewarta Sabda Allah dan gembala Gereja-Nya kita mendukung dan mendoakannya agar, melalui cara hidupnya, kita dapat merasakan dan menikmati betapa baiknya Tuhan (bdk.Mzm 33/34,9) kepada kita.
            Pada kesempatan khusus ini, P. Yanto akan merayakan Ekaristi: menghadirkan kembali cinta Tuhan, lewat korban Yesus Kristus, yang besar kepada kita. Untuk itu marilah kita bersama-sama membuka hati agar Tuhan layak hadir dan membaharui hidup kita. Dengan meriah marilah kita menyanyikan lagu pembuka.


Selasa, 30 Agustus 2016

Bergoyang ria tanpa musik….

Aek Nabara, Sumatera Utara, 24 Agustus 2016
Kurang lima belas menit jam Sembilan pagi mobil kijang biru meluncur keluar dari halaman Paroki Aek Nabara. Pengemudinya adalah Br. Siprianus dengan dibantu oleh co-sopir P. Valentin, sx. Di kursi tengah ditempati oleh dua orang Flores: Sr. Cornelia, KYM dan saya.  Kami sedang meluncur ke Stasi Panjomuran untuk merayakan ekaristi.

Selama tiga puluh menit mobil ini melaju dengan kecepatan delapan puluh sampai dengan seratus kilometer per jam; namun selama empat puluh menit kemudian berubah drastis menjadi sepuluh sampai dua puluh kilometer per jam karena kondisi jalan tidak memungkinkan lain daripada itu. Berkali-kali kami bergoyang bukan karena mengikuti irama musik; dari pop Perancis sampai irama musik country  dipadu dengan musik Ambon kesukaan bang sopir, melainkan karena kondisi jalan yang bergelombang dan berdebu. Keadaan itu tidak menghalangi semangat dan kerinduan kami untuk bertemu umat stasi yang tentu saja sedang menanti kehadiran Kristus melalui pelayanan sakramen yang hedak kami hadirkan.

Tepat jam sepuluh kami memasuki halaman dan kapela stasi Panjomuran dan disambut dengan hangat oleh seorang bapak yang segera menjemput dan memberi salam kepada kami. Di dalam kapela yang berukuran sangat kecil dan belum rampung pembangunannya ini telah hadir sekitar belasan umat termasuk beberapa anak-anak yang satu per satu pun datang menyalami kami. 

Perhatianku tak dapat kuhindarkan dari suasana internal kapel yang menampakkan apa adanya. Ketika menghadap ke altar, ada sekitar dua lajur yang lumayan kontras: satu lajur berisi bangku-bangku tempat umat duduk. Di dalam kapel, sebagai tempat ibadat, sangat tepat keberadaan bangku-bangku ini. Lajur lainnya diisi oleh material untuk pembangunan gereja: tampak sekali setumpuk balok-balok panjang yang tergeletak ke arah altar, selain itu masih ada banyak sekali besi beton dan beberapa sak semen. Sekitar dua meter dari pintu masuk tergantung sebuah ember kecil yang berisi lilin untuk keperluan ibadat yang sengaja dimasukkan di situ untuk menghindari serangan para  tikus. Keberadaan altar menjadi simbol   utama identitas kesakralan tempat umat katolik ini berkumpul memuliakan dan memperbarui iman mereka akan Tuhan yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. 

Disatukan oleh iman akan Allah yang rela merendahkan diri-Nya, menjadi manusia dan lahir di kandang yang hina demi menyelamatkan umat-Nya telah mengalahkan teriknya mentari maupun jarak yang sangat jauh. Semangat Tuhan yang ingin bertemu dengan umat-Nya melandasi pengorbanan masing-masing dari kami untuk saling berjumpa di tempat yang sederhana ini. Memang sungguh dirasakan bahwa dalam kesederhaan, baik tempat maupun kesederhanaan hidup umat di stasi ini, Tuhan menghadirkan diri-Nya.

Kehadiran-Nya itu kami rasakan lewat katekese liturgis sederhana dan singkat yang dibuat oleh Sr. Cornelia, KYM sebelum misa dimulai. Beliau mengantar umat untuk berjumpa dengan Tuhan dalam Ekaristi kudus melalui beberapa penjelasan singkat soal sikap umat dalam mengikuti misa: termasuk kemudian membuat latihan koor singkat dan mempersiapkan para lektor. Dalam waktu yang bersamaan saya membantu P. Valentin mempersiapkan altar dan mempersiapkan segala hal untuk pembaptisan Jessica, seorang anak yang berumur lebih dari satu tahun. Kerinduan kami untuk berjumpa dengan Tuhan diteguhkan dan disempurnakan lewat perayaan Ekaristi kudus dengan mengambil bacaan bukan dari bacaan harian dari yang bersangkutan melainkan mengambil bacaan dari hari Minggu biasa sebelumnya. Jadi, kami merayakan ekaristi mingguan di hari Selasa.  Ini merupakan pengalaman pertama dan baru bagiku di mana hari “Selasa dijadikan hari Minggu”: sebuah pengalaman iman yang sangat menyentuh di mana Tuhan dirindukkan kehadiran-Nya dan bersedia ditemui dalam suasana tempat yang sederhana terutama di dalam hati orang-orang sederhana. Terima kasih Tuhan untuk semuanya ini.


Sekitar pukul tiga belas lebih tiga puluh menit keempat penumpang istimewa dari mobl kijang biru ini kembali bergoyang ria mengikuti gelombang naik turunnya jalan yang kami lalui untuk kembali ke markas paroki pusat Aek Nabara. Sebuah perjalanan yang jauh tetapi menyenangkan karena semangat Tuhan untuk menjumpai umat dalam kesederhanaan suasana lahir batin mereka telah meresap dalam cara hidupku. Semoga Tuhan memampukanku untuk mengenal-Nya lebih mendalam menjadi mimpiku sepanjang perjalanan pulang ini. 

Kamis, 25 Agustus 2016

“Nyasar” dari Bologna sampai Dubai…



Saya masuk pesawat Emirates EK 094 dari Borgo Panigello, Bologna, Italia jam 14.45 setelah menempuh perjalanan panjang dari Parma selama satu jam lebih. Saya menempati kuris no. 39 K persis bagian jendela: sebelah kanan dari pesawat. Saya tidak mengira mendapat tempat strategis ini di mana dengan mudah saya dapat mengambil foto dengan kamera yang dihadiahkan oleh Giovanni Ruzzi, sahabat sekaligus penderma dan fotografer resmi dari frater-frater teologi di Parma.

Ketika saya mau menempati kursiku saya harus meminta permisi kepada salah satu penumpang di kursi I untuk dapat menuju kursiku. Tampaknya beliau berasal dari Inggris karena badannya tinggi besar, berambut panjang hitam lebih panjang dari rambutku: bahasa Inggrisnya sangat lancar seperti air mengalir. Kepada dia saya bertanya, sekedar untuk memulai percakapan dengan beliau, apakah saya bisa meletakkan tas tangan atau ransel kecilku di bawah kursi dudukku. Dia bilang tidak tahu apakah diperkenankan meletakkan tasku itu di bawah kakiku dengan nada yang cenderung menolak atau melarang. Saya mengikuti pesannya dengan menempatkan tasku itu di bagasi di atas kepala seteleha lebih dahulu mengeluarkan, tentu saja, diariku ini, HP dan kamera dengan maksud dapat menggunakan mereka secara leluasa saat adat kesempatan baik. Beberapa saat kemudian saya mengambil pena dan menggoresi diari ini dengan cerita atau kisah atau unek-unek yang sedang kutulis sejak dari sekarang ini.

Saat menulis ini, baru kusadari bahwa inilah kesempatan pertama saya menulis lagi dalam bahasa Indonesia setelah setahun lebih absen menulis dalam bahasa yang kucintai karena sibuk lebih dari setahun terakhir saya sibuk menyelesaikan skripsi atau tesinaku. Rasanya ide yang terungkap dalam kalimat mengalir lancar tanpa harus berhenti memikirkan atau memilih kata-kata dalam bahasa Indonesia. Hal ini bisa menggambarkan suasana hatiku yang gembira menyambut kesempatan emas ini untuk kembali ke tanah air terutama untuk berjumpa, bersua dengan keluargaku yang kucintai dan kurindukan.

Jujur saja sejak saya berangkat dari Parma jam 11.00 siang sampai saat ini suasana hatiku sangat tenang tanpa sedikitpun merasa takut selain rasa lapar minta makan saat duduk di ruang tunggu—Sebotol air minum dan dua bungkus kecil biskuit berhasil memuaskan rasa haus dan laparku yang tidak kubayangkan akan terjadi sejak saya berangkat dari Parma. Ya, itulah otaknya laki-laki, yang tidak memikirkan sebelumnya kebutuhan primer selama perjalanan jauh—Saya yakin bahwa rasa tenang ini ada atau datang berkat rahmat Tuhan juga berkat doa banyak orang terhadapku. Untuk mensyukuri ini dan untuk meminta perlindunganNya selama perjalanan ini saya membuat tanda salib dan berdoa dalam hati saat hendak melangkahkan kakiku ke tangga pesawat. Saya yakin Tuhan ada dan hadir bersamaku, bersama kami. Tuhan bekerja dan membantu kami lewat kecerdasan dan kerjasama semua pihak termasuk pilot, pramugari dan para petugas lainnya.

Tak kusia-siakan kesempatan duduk dekat jendela pesawat untuk melihat kota, pulau, laut dan awan dari atas pesawat. Kalau sebelumnya saya melihat awan dari bawah, sekarang saya melihat kota dari atas awan. Pemandangannya tentu saja indah dan menyeluruh: terutama menyaksikan cahaya lampu di kota maupun cahaya lampu kapal-kapal yang sedang berlayar di laut. Melihat kota dari atas pesawat seakan membrowsing sebuah kota di google maps.

Selain memandang indahnya alamku dari jendela pesawat saya sempat meluangkan waktu untuk nonton film sampai tertidur lelap. Akibatnya kurun waktu lima jam lima menit, waktu tempuh dari Borgo Panigello (Italia) ke Dubai  (Qatar) sangat singkat: sampai akhirnya pesawat EK 094 mendarat di Dubai jam 21.00 waktu Italia atau jam 23.00 waktu Qatar. Satu jam kemudian saya baru bisa menemukan pintu A17, pintu di mana para penumpang yang hendak ke Indonesia akan check in, meskipun telah menggunakan dua jasa angkutan: bus dari pesawat ke ruang tunggu, kereta api dari ruang tunggu ke pintu check in tanpa sedikit pun macet. Itu menandakan betapa luasnya area Bandara Internasional Dubai. 

Setelah selesai makan malam yang telat atau sarapan pagi yang terlalu cepat di restoran Buffet the Mazzinai, yang terletak di ruang A2, di mana saya dapat memakan nasi campur daging, saya menempati kursi dekat tempat charge HP untuk mengecas Hpku yang baru dihadiahkan kepadaku oleh P. Raimondo Sommacal, sx, empat hari lalu, tepatnya Sabtu, 2 Juli 2016. Sambil menunggu baterai penuh, saya lanjut menulis kisah perjalanan pulangku ke tanah air untuk bertemu keluarga sekaligus mempersiapkan diri untuk menerima tahbisan imam yang akan berlangsung di Aeknabara tanggal 30 Agustus 2016. Inilah cuti pertama yang kubuat setelah ”nyasar” di Italia selama tiga tahun sepuluh bulan (1 September 2012-5 Juli 2016). Merupakan waktu cuti yang sangat ditunggu-tunggu.


Di tempat ini, di ruang tunggu zona A, ada banyak sekali orang: kebanyakan dari kami berasal dari India dan Indonesia di mana di antara orang-orang Indonesia ada lebih dari 30 anggota tentara indonesia (TNI). Saya tidak tahu dari mana datangnya mereka: bisa jadi mereka baru pulang dari suatu tugas misi. Orang-orang bule tidak terlalu banyak di ruang tunggu ini.

Hal-hal aneh yang terjadi selama perjalanan ini juga saat berada di Dubai adalah sebagai berikut. Tanpa sadar, saat berbicara dengan pelayan restoran, saya menggunakan bahasa Italia. Saya baru sadari soal itu ketika dia bilang bahwa dia tidak mengerti pertanyaanku. Dengan diam sejenak sambil mengingat kembali bahasa Inggrisku, saya menanyainya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Lalu, ketika saya sampai di tangga setelah makan di restoran Buffet the Mazzinai  kujumpai dua orang pemuda India: mereka menanyaiku di mana restoran—yang diindikasikan dalam tiket—dalam bahasa India. Saya mengerti pertayaan mereka itu karena mereka menggunakan mimik minta makan. Saya berusaha menjelaskan dalam bahasa Inggris tetapi mereka tetap menjawabku dalam bahasa India di mana salah satu dari mereka mengulang kata restoran.

Di sekeliling tempat dudukku sekarang kudengar merdunya suara orang berbicara bahasa Indonesia, bahkan ada juga yang berbahasa Jawa. Hanya saya saja yang belum berani memperdengarkan suaraku karena tidak ada seorangpun yang saya kenal untuk ngobrol. Duduk, diam dan menunggu memang hal yang sangat melelahkan. Hampir setiap lima menit saya mengontrol jam check in yang tidak kunjung tiba. Sepertinya waktu transit terasa lebih panjang dari waktu tempuh pesawat dari Bologna ke Dubai. Tapi, ya, mau gimana lagi. Satu-satunya hal yang menarik yang saya lakukan adalah mengamati orang yang lalu lalang ke sana kemari. Aroma kue-kue dari McDOnalds atau aroma kopi dari bar maupun aroma makanan dari restoran yang ada di hadapan kami tidak menarik sama sekali perhatianku. Mau otak-atik HP tidak bisa karena gak tahu apa-apa mengoperasikan HP.