Jumat, 31 Maret 2017

La bellezza del vangelo [1]




Vìctor Manuel Fernàndez ribadisce che noi annunciamo il vangelo non tanto perché ci è stato comandato da Gesù quanto piuttosto perché in esso troviamo il tesoro bello: non solo da apprezzare, ma anche da offrire. Questo tesoro lo vogliamo condividere agli altri perché lo abbiano, perché arricchisca la loro vita. Infatti nel sottotitolo l’autore enuncia già questo punto centrale “Quello che abbiamo veduto e udito, noi lo annunciamo anche a voi (1Gv 1,3)”. 
Il tesoro di cui l’autore riferisce è Dio che si fa uomo in Gesù Cristo. Gesù è “un tesoro che umanizza, che ci aiuta a vivere una vita nuova. Non c’è nulla di meglio che possiamo trasmettere agli altri” (Fernandez, Uscire, p. 17). Questo tesoro è tipico ricchezza cristiana che nessuna altra religione può dare, però non significa che non abbiano le cose belle nelle loro religione. “Tutta la vita di Gesù, il suo stile di rapportarsi con i poveri, i suoi gesti, la sua coerenza, la sua generosità quotidiana e semplice, tutto è bello e accende il desiderio di farlo conoscere agli altri. Non è meraviglioso vedere come Gesù si muove, osservare i suoi atteggiamenti con la gente, la sua delicatezza nei riguardi degli esclusi dalla società, l’inesauribile dono di sé? Quando condividiamo tutto questo con gli altri, non lo facciamo per convincerli a forza, bensì per donare loro qualcosa che valga la pena, come apparecchiando per loro una tavola o facendo loro provare un profumo delizioso. Nessuno si mette un profumo per annusarselo da solo, ma per condividerlo con gli altri. Così è la missione” (Uscire, p.19). Gesù è il tesoro prezioso che Dio ci dà e allo stesso tempo il tesoro che un cristiano deve donare agli altri.
Per scoprire ed acquistare questo prezioso tesoro ci vuole un cuore contemplativo, “un cuore aperto che dedichi del tempo a considerare i minimi dettagli di Gesù che il Vangelo ci mostra” (Uscire, p.17). Ci vuole un coinvolgimento personale per poter conoscerlo; cioè non solo una conoscenza intellettuale piuttosto una esperienza stando sotto i suoi piedi come Maria di Betania. Infatti nel chiamare i suoi primi discepoli Gesù dice “venite e vedete; è una condizione che non può mancare. Avere un cuore contemplativo significa avere tempo ed essere disponibile a conformarsi con il modo di vivere di Gesù. In una frase riassuntiva si può dire che la bellezza del Vangelo consiste nel Vangelo stesso e nelle persone che vivono il Vangelo.
  
Alla fine Victor Manuel conclude che per donare agli altri questo grande tesoro ci vuole impegno creativo: “Chi sul serio si sia fermato a pregare con il Vangelo sa che non è bello privare gli altri di una bellezza che merita di essere conosciuta e goduta. Affinché possa essere scoperta dal maggior numero di persone, dovremo mettere in gioco la nostra creatività, la nostra delicatezza e la nostra sensibilità migliore, impegnandoci a presentare il Vangelo in modo tale che ne traspaia il fascino” (Uscire, p.20). Cioè non è sufficiente vedere la bellezza ma dobbiamo diventare il trasparente della bellezza del Vangelo quando lo viviamo realmente.  La nostra missione è tanto acquistare quanto condividere l’unico tesoro cristiano. Ovvero acquistare, cioè lasciarsi assorbire da questo tesoro, è già una missione. 
La bellezza del Vangelo richiama un pensiero di P. Francesco Marini sx, è stato uno dei miei cari formatori della mia vita cristiana-umana, il quale ribadiva l’esigenza missionaria. Lui diceva che l’esigenza dell’essere amato incondizionatamente da Gesù ci spingeva ad annunciarlo. Quindi annunciare il Vangelo non era un comandamento da obbedire o osservare, anzi era un sentirsi amato da Dio di Gesù Cristo e dal quale si va ad annunciarlo: “La sorgente e il fine della missione è questa Charitas Christi: il nostro amore per lui e ancor più il Suo amore per noi. La Missione nasce dall’incontro personale con Cristo, anzi dal traboccare di questo incontro e dalla esperienza che Cristo e il suo regno bastano alla vita di un uomo. È questo incontro che cambia la nostra vita e ci fa missionari; ed è questo incontro che ci proponiamo di suscitare in altri così che anche la loro vita diventi nuova. A partire da quella realtà, da quel Mistero creduto, vissuto, ricercato, dalla esperienza che Cristo è la soluzione dei problemi della nostra vita, la sua chiave di lettura, la Persona più amata, il punto di convergenza di tutte le nostre energie, sgorgherà inevitabilmente la pienezza della missione che ci avvicinerà alla gente, ci farà liberi, dialoganti, disposti al rischio, capaci di proporre e chiedere, dimentichi di noi e gaudiosi nelle difficoltà…La Missione nasce dunque dalla fede e dall’esperienza che Gesù è salvatore e Messia: che egli è il Cristo[2].



[1] Fernandez, Victor Manuel, “La bellezza del Vangelo” in Uscire per annunciare. Come Papa Francesco ci spinge alla missione, Emi, Bologna 2016, 17-20.
[2] Marini, Francesco, “Alle radici della missione: l’incontro personale con Cristo” in Cordialmente vostro, Missionari Saveriani, Roma, 1998, p.11.

Kamis, 16 Februari 2017

Bersila di lapangan Santo Petrus…





Satu jam setelah saya tiba di Collegio Conforti di Roma (Rabu, 15 Februari 2017) saya langsung pergi menuju ke rumah generalat xaverian untuk mengambil buku yang dipesan oleh p. Mario. Dalam waktu duapuluh menit semua urusanku—dari menyalami sambil ngobrol dengan beberapa pastor yang kutemui sampai urusan mengambil buku—bisa langsung kelar. 

Begitu keluar dari rumah generalat saya belok kanan hendak menuju lapangan St. Petrus sebagaimana niatku sebelumnya. Sambil menurun saya sempat berkata pada diriku “Ah tidak ada gunanya saya ke sana karena sudah berulang kali saya menginjakkan kaki di tempat di mana terletak ikon lahiriah dari Gereja Katolik sedunia”. Sejenak saya menghentikan langkah dan berpikir ulang. Dalam sekejap mata kutemukan alasan kuat untuk maju terus. Yang jelas bukan karena nilai sejarah dari salah satu negara terkecil di dunia, bukan tertarik oleh kemegahan bangunannya dan bukan pula terdorong oleh keinginan untuk melihat Bapa Paus, karena saya tahu bukan jam yang tepat bagi beliau untuk memperlihatkan dirinya. Sebaliknya saya ingat mereka yang akan lahir dan persis itulah alasan mendasar mengapa saya melanjutkan perjalananku menuju Kota Vatikan. Saya berziarah untuk mendoakan mereka yang akan hadir di tengah-tengah kami. 

Ketika memasuki kompleks negara Vatikan ada banyak orang yang keluar dari lapangan Santo Petrus tapi jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah orang yang masih bertahan di tengah dan sekitar lapangan bersejarah ini. Saya termasuk salah satu yang akan menambah jumlah pengunjung ini meskipun saat saya memasukinya suasana gelap perlahan-lahan semakin kuat karena telah menunjukkan pukul tujuhbelas lebih duapuluhlima menit. Begitu masuk saya langsung mengambil beberapa foto di lorong pilar-pilar maupun memfoto lapangan yang diberi nama paus pertama dalam sejarah Gereja Katolik dari celah pilar-pilar ini. Hasil jepretanku memang tidak sungguh berkualitas dengan bermodalkan kamera ponsel SJ3 milikku namun saya tetap puas menikmati hasilnya. 

Saya kemudian memilih bersandar di sebuah pilar yang terletak tidak jauh dari menara yang ada di tengah lapangan Santo Petrus. Saya memilih duduk di situ karena sangat strategis sehingga saya bisa leluasa menghadap ke basilika. Sambil bersila saya menyampaikan niatku kepada Tuhan dengan perantaran doa Bunda Maria juga kedua santo, Petrus dan Paulus. Selama kurang lebih enampuluh lima menit saya bersemedi sambil berrosario untuk mendoakan secara khusus mereka yang akan lahir agar prosesnya lancar dan agar kesulitan yang sekarang dihadapi bisa menemukan jalan keluarnya. Sempat muncul dalam benakku untuk mengusulkan nama kedua santo besar ini untuk mereka yang akan memperkuat squadra keluarga kami. Tapi, soal itu adalah urusan yang kesekian!!! Kuingat pula nama-nama keluarga, teman dan kenalanku yang selama ini meminta untuk didoakan sesuai dengan intensi yang mereka inginkan. 

Duduk bersila selama enampuluh lima menit di lapangan St. Petrus tidak menimbulkan kram di pergelangan kakiku padalah duabelas tahun silam, selama aktif di Sersan M. Romy, waktu yang demikian sudah cukup untuk membuat seluruh kaki dan punggungku ‘mati’ rasa di hadapan Bunda Maria Sabuin. Tentu saja bukan tempat yang menimbulkan perbedaan rasa tapi apa yang melatarbelakanginya. Mendoakan-merindukan yang terbaik untuk orang lain (terutama untuk mereka yang akan lahir) menyita perhatianku sehingga keletihan fisik pun menjad tidak begitu penting. Semoga mereka yang akan hadir ini mampu menjadi pribadi yang baik seturut kebaikan Dia yang ada di balik kemegahan Basilika Santo Petrus ini. Sayangnya, banyak pengunjung yang datang ke tempat ini berhenti pada apa yang tampak secara fisik. Nah…kuajak mereka untuk menemukan hal esensial-spiritual ini dan memperlihatkannya dalam cara hidup mereka sebagaimana cahaya lampu dari Basilika mampu menyinari gelap di sekitar daerah Vatikan. 

Nella tua luce vediamo la luce”, mi sono detto concludendo.  

Selasa, 31 Januari 2017

Jejak sepatuku di Salerno…



Salerno, 7 Januari 2017


Untuk pertama kalinya saya bisa melihat jejak sepatuku di atas jalan yang sering kulalui sejak saya tiba di Salerno 14 Oktober 2016 lalu. Saya mengenalnya karena saya merupakan orang pertama yang melalui jalur ini tadi pagi. Hal yang baru bukanlah diriku, bukan aspal yang berubah dan bukan pula jejak kakiku melainkan salju yang memungkinkanku melihat jejakku. Ketika kuberjalan sepanjang jalan Fra Giacomo Acquviva hanya bekas kakiku saja yang ada, namun ketika saya sampai di persimpangan gereja Santo Paulus ternyata sudah ada jejak ban mobil dan motor. Bahkan ada sebuah motor yang berusaha melewati jalan bersalju, namun tidak berhasil bergerak sebagaimana mestinya dan memaksa pengendaranya turun untuk menuntun motor itu demi keselamatanya sendiri.

Tidak kubiarkan moment indah ini berlalu begitu saja tanpa mengabadikannya pertama-tama dengan mata telanjang: melihat sambil mengagumi salju yang bertebaran di mana-mana: di atas rumah, di atap mobil, di daun, di atas kursi, di atas tangga dan terutama di atas aspal termasuk di bukit Arecchi. Setelah itu kuambil handphoneku untuk memotret jejak kakiku di atas salju, mengambil dua video dengan harapan untuk disharekan ke teman-temanku nun jauh di asia sana. Saya senang melakukan ini meskipun sebenarnya tanganku menjadi sangat beku karena suhu yang dingin serta diterpa angin yang lumayan kencang.

Petualanganku pagi ini bukan demi salju melainkan demi tugas: pergi merayakan misa di komunitas suster para puteri gereja dengan jarak tempuh sepuluh sampai lima belas menit dalam kondisi normal. Namun hari ini saya membutuhkan waktu lebih dari tigapuluh menit: selain karena ‘bermain salju sambil narsis’ tapi juga karena berjalan di atas salju resikonya besar sekali. Hal itu saya rasakan ketika harus melewati jalan yang miring: konsentrasi harus terfokus karena harus memastikan langkah sebab ketika salah melangkahkan kaki maka konsekuensinya adalah terbelanting seperti ranting pohon yang jatuh. Tidak boleh menghayal saat jalan di atas salju apalagi mata belalak sana sini: itu alamatnya tidak lain dan tidak bukan adalah salah alamat; bisa-bisa berakhir di rumah sakit. Buah konsentrasiku sangat baik: saya tiba dengan sehat di kapel dan merayakan misa hanya dengan tiga suster.

Saat pulang situasinya lain: salju yang turun mulai berkurang, angin mulai mereda namun di beberapa tempat saljunya berubah menjadi beku dan mencair sehingga membuat jalan menjadi licin. Orang yang tidak hati-hati saat berjalan akan merasakan perihnya terjun bebas alias tergelincir. Itu memang nyata ketika saya sedang berusaha berjalan di jalan yang rata tapi sangat licin karena sudah banyak mobil yang melewati jalan itu. Dua meter dari hadapanku seorang laki-laki dewasa, kira-kira berumur di atas lima puluh tahun, dengan pakaiannya yang lumayan elegan, sedang berjalan beralawanan arah denganku. Dia sedang menatap tajam ke depan, penuh percaya diri sambil melangkahkan kaki, eh ternyata saat itu kaki kanannya meleset dan seluruh tubuhnya terjerembab ke tanah, dan itu terjadi hanya dalam sekejap mata. “Niente da fare” pensavo. Dalam hati saya berucap salah langkah dan jatuh memang normal, karena kesalahannya sendiri.

Tidak jauh sesudah itu saya menemukan hal yang lebih aneh, paling tidak menurutku. Saya sudah memasuki zona tempat tinggal kami, di daerah Irno. Saya sedang mendaki sebuah tanjakkan kecil ketika kudengar seorang laki-laki yang bilang, “ayo cepat, cepat. Jangan ke situ, itu sangat licin”. Saya, sambil jalan, saya berusaha mencari lawan bicara dari orang ini. Benar bahwa tidak ada orang lain di situ, yang ada hanya seekor anjing besar yang sedang dia temani. Eh ternyata orang ini sedang berbicara dengan anjingnya. Dalam hati saya berujar “ternyata dunia dongeng itu benar di mana binatang pun bisa diajak bicara”bahkan di dunia modern seperti italia.

Ternyata melihat orang berbicara dengan anjing bukanlah akhir dari keanehan yang kujumpai di hari bersalju, di Salerno lagi. Ada yang lebih buruk dan lebih tidak masuk akal di mana seorang ibu jatuh terjerembab karena berusaha berlari kecil mengikuti irama lari dari anjingnya. Anehnya: ada salju, jalan menurun dan lari karena ikut anjing yang sedang lari.

Dalam hati kecilku kuingat orang-orang di kampungku yang sangat penasaran mencari tahu bagaimana bentuknya salju dan apa yang bisa dibuat saat salju. Mereka sangat teliti mendengar rasa kagumku ketika saya melihat salju secara langsung. Mengingat hal itu saya pun berujar pasrah dalam hati, “Mereka pasti akan semakin merasa aneh melihat orang yang lari dan jatuh tergelincir di salju gara-gara anjing”.   

Sabtu, 31 Desember 2016

Missione è vocazione e scelta#



Mi chiamo Ferdinandus Supandri e sono rientrato in Italia il 14 ottobre 2016. Prima, ero in Indonesia, il mio paese natale, per le vacanze e soprattutto per ricevere l’ordinazione presbiterale il 30 agosto 2016.




Con e per i giovani…
I superiori mi hanno chiesto di venire qui a Salerno, per realizzare il sogno di san Guido Maria Conforti: “Fare del mondo una sola famiglia in Cristo”. Mi impegnerò nell’animazione missionaria e vocazionale.

È un lavoro che richiede tutto di me: tanta forza fisica e mentale e un cuore umile, pronto a essere arricchito, prima di tutto, dalla Parola vivente del Signore, dalle realtà in cui mi trovo e sarò aiutato anche dalle persone conquistate dall’impegno missionario di san Guido Conforti.

Mi permetterò di dire che lavorerò con e per i giovani, ravvivando in loro lo spirito missionario perché si sentano protagonisti, inviati da Dio all’interno della vita ecclesiale e umana.

Credo che una tra le numerose caratteristiche dei giovani sia l’entusiasmo della scoperta: scoprire se stessi, il senso, il dono e il disegno di Dio nella loro vita.

Perciò, mi auguro che anche la mia presenza possa aiutare a orientare i ragazzi a scoprire e sentire la presenza di Dio nella loro esistenza.  



# l’articolo è stato già pubblicato nei Missionari Saveriani di dicembre 2016

Rabu, 30 November 2016

Nunang Sebelas September Dua Ribu Enambelas…



Saya hendak mengabadikan salah satu moment penting dalam hidup saya yaitu misa perdanaku yang berlangsung di Paroki St. Mikael Nunang, Nunang, Wae Sano, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia pada tanggal 11 September 2016. Wajar kalau keluargaku, sahabat, kenalan, umat paroki Nunang, para konfrater Xaverian, dan semua yang hadir memusatkan perhatian kepadaku. Saya merasakan sungguh hal itu terjadi. Di lain pihak saya memusatkan perhatianku pada hal yang terkandung di balik kehadiran mereka: mereka datang untuk merayakan apa yang Tuhan kerjakan dalam hidupku melalui campur tangan mereka. Sebenarnya bukan saya yang menjadi obyek perhatian pada saat itu, melainkan terpusat pada rasa syukur karena Tuhan mendengar doa-doa kami. Di balik banyaknya umat yang hadir saya menangkap atau memetic sebuah pesan yang sangat mendalam dan sangat besar yaitu bahwa mereka datang mendoakan dan mendukung saya. Ini merupakan sebuah panggilan dan tugas yang perlu kuingat selalu dan perlu kujalani. Berikut ini saya lampirkan komentar yang kubuat sendiri untuk mengantar umat dalam mengikuti misa perdanaku. Di dalamnya terkandung pula makna yang kuberikan dari apa yang Tuhan limpahkan kepadaku.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Ibu, bapak, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, hari ini kita berkumpul untuk bersyukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang berlimpah kepada kita, terutama atas rahmat imamat yang Tuhan anugerahkan kepada anak, adik, saudara kita P. Ferdinandus Supandri, SX yang telah ditahbiskan menjadi pelayan Tuhan dan Gereja-Nya di Paroki Santo Fransiskus Asisi, Aek Nabara, pada tanggal 30 Agustus 2016 yang lalu oleh Monsignor Anicetus Bongsu Sinaga, Ofm.Cap, uskup Keuskupan Agung Medan.
           
Selama 11 tahun P. Yanto (atau kerap dipanggil Pandri oleh teman-temannya di komunitas Xaverian) telah merelakan dirinya dibimbing dan dibentuk oleh Tuhan lewat nasihat, didikan, contoh dari orang tua dan keluarganya, juga sahabat kenalan, para pastor dan para pendidik yang telah mendampinginya. P. Yanto meyakini bahwa rahmat imamat khusus yang beliau terima bukanlah hasil perjuangan pribadinya, bukan pula karena kepintarannya belaka, juga bukan karena beliau lebih dari yang lain; melainkan karena Tuhan mendengar dan merestui kerinduannya, juga mendengar doa-doa umat paroki Nunan
g. Tuhan telah memilihnya di antara kita untuk diutus kepada kita, umat-Nya, oleh karena itu mari kita bersama-sama bersyukur atas perhatian Tuhan terhadap Gereja-Nya yang masih berziarah di dunia ini. 
Sakramen imamat yang beliau terima bukanlah hal yang harus dibanggakan karena merupakan anugerah Tuhan yang harus disebarluaskan atau diwujudnyatakan kepada umat yang dia layani. Untuk itu di awal panggilannya sebagai pengudus umat, pewarta Sabda Allah dan gembala Gereja-Nya kita mendukung dan mendoakannya agar, melalui cara hidupnya, kita dapat merasakan dan menikmati betapa baiknya Tuhan (bdk.Mzm 33/34,9) kepada kita.
            Pada kesempatan khusus ini, P. Yanto akan merayakan Ekaristi: menghadirkan kembali cinta Tuhan, lewat korban Yesus Kristus, yang besar kepada kita. Untuk itu marilah kita bersama-sama membuka hati agar Tuhan layak hadir dan membaharui hidup kita. Dengan meriah marilah kita menyanyikan lagu pembuka.