Jumat, 18 April 2014

TUHAN, ENGKAU HEBAT!


Judul di atas adalah motto tahbisan imam dari om-ku, P. Bone, SVD. Beliau mengutip sebuah ayat dari kitab Mazmur tapi sayangnya saya telah lupa bab dan ayatnya yang pasti. Pertama kali saya membaca frase itu adalah 15 tahun lalu. Saat itu saya tidak mengerti apa maksud frase itu karena di tahun-tahun itu saya hampir tidak pernah membaca Kitab Suci. Kesempatan untuk mendengar bacaan-bacaan KS adalah hari minggu saat di gereja tapi saya jarang sekali pergi ke misa karena harus menempuh kurang lebih satu jam perjalanan jauhnya. Jujur saja saya malas ke gereja karena alasan di atas tetapi juga karena ada pilihan lain yang lebih menarik yang sering kulakukan pada hari Minggu yaitu pergi mencari dan menangkap ikan dan belut di beberapa kali yang berada di sekitar kampungku. Saya lebih suka pergi menangkap ikan dan belut karena sudah pasti akan ada hasil yang bisa saya bawa pulang ke rumah sementara kalau pergi ke gereja untuk mengikuti misa saya tidak memperoleh apa-apa. Saya lebih mampu mengingat jalan-jalan setapak yang harus kami tempuh saat pergi ke kali daripada mengingat nama-nama penginjil, nama-nama para rasul apalagi mengingat kisah-kisah penting dalam hidup Yesus dalam injil-Nya. Ketika mengingat kembali pengalaman-pengalaman ini saya tentu saja heran dan bahkan membuatku tertawa sendiri, tapi itulah sejarah hidupku. “Aneh memang, tapi itu nyata.”
*********
Tuhan, Engkau Hebat, kini merupakan ungkapan hatiku yang terdalam. Masa prapaskah tahun ini mengantarku pada pengakuan dan kesimpulan ini. Saya tidak bisa tidak mengatakan ini. Saya tidak bisa mengelak lagi memuji-Nya demikian. Keadaanku sama seperti keadaan hati seorang yang sangat terpesona dengan berkat, hadiah, hal terindah dalam hidupnya. Di hadapan situasi yang mempesonakan pasti seorang terkagum. Untuk sampai pada keterpesonaan, kekaguman bahwa “Tuhan, Engkau HEbat” saya berangkat dari dari kisah-kisah injil dalam pekan suci ini.

Dalam bacaan injil hari Minggu Palma saya mendengar kisah Yesus saat masuk kota Yerusalem. Banyak orang mengelu-elukan-Nya karena mereka berharap Dia dapat menjadi raja yang dapat membebaskan Israel dari belenggu kaum Romawi. Beberapa hari kemudian orang banyak yang sama/serupa meneriakkan, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” di hadapan Pilatus atas desakan para pemuka agama Yahudi (baca, SUKA YANG BERDUKA, dlm http://fsupandri.blogspot.it/2014/04/suka-yang-berduka.html). Kisah masuknya Yesus ke Yerusalem merupakan awal kisah sengsara-Nya. Yesus ditinggalkan sendirian baik para rasul yang dipilih-Nya sendiri, para pemuka agama yang merasa terancam dengan kehadiran-Nya juga oleh orang banyak sampai Pilatus dengan menjatuhkan hukuman mati terhadap-Nya.

Kesedihan-Nya berawal setelah perjamuan malam terakhir di mana Yesus membasuh kaki para rasul dan menetapkan ekaristi. Setelah perjamuan malam, Yudas Iskariot meninggalkan ruang perjamuan. Yudas Iskariot pergi menemui imam-imam kepala yang telah dia temui sebelumnya dengan janji 30 perak akan diterimanya ketika Yudas memberitahu di mana keberadaan Yesus. Yudas Iskariot kemudian membimbing massa dan segerombolan pasukan atas perintah para imam dan tua-tua agama Yahudi untuk menangkap Yesus. “Orang yang kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia,” (Mat 26,48) kata Yudas kepada serdadu di Taman Getsemani. Yudas Iskariot, yang telah menjadi bagian dari kelompok para rasul yang dibentuk oleh Yesus sendiri, hidup bersama-Nya dan telah mendengar segala ajaran kasih-Nya, kini mengkhianati-Nya. Yudas Iskariot, bukan hanya meninggalkan Yesus dan kesebelas rasul lain dan melepaskan diri dari-Nya melainkan menyerahkan-Nya kepada orang-orang yang telah menginginkan kematian-Nya. Yudas mengaplikasikan kebaikan kasih Yesus dengan mengkhianati-Nya, dengan menyerahkan Yesus kepada orang-orang yang merasa diri mereka musuh dari Yesus.

Sebelum Yesus ditangkap di Getsemani, Yesus telah berada di sana bersama Simon Petrus, Yohanes dan Yakobus. Yesus meminta mereka untuk menemani-Nya menghadapi penderitaan yang ada di depan mata. Akan tetapi mereka malah tertidur di saat Yesus bergulat. Ketiga murid ini tidak memahami apa yang dihadapi Yesus. Yesus ditinggalkan sendirian berpuncak ketika serdadu yang dituntun Yudas Iskariot atas perintah para imam kepala menangkap-Nya. Melihat Yesus telah berada di tangan massa dan serdadu, para murid melarikan diri: “Lalu semua murid-murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri,” (Mat 26,56: Mrk 14,50).

Ketika Yesus dibawa oleh massa ke Mahkamah Agama, Petrus mengikuti meskipun secara sembunyi-sembunyi. Motivasi Petrus mengikuti Yesus dari jauh bukan untuk membela Yesus tetapi dia penasaran akan apa yang terjadi pada Yesus. Ketika massa dan Yesus tiba di halaman imam besar, Petrus turut masuk. Saat itu seorang wanita datang menanyainya apakah Petrus kenal dan menjadi murid Yesus. Dengan lantang Petrus menjawabnnya, “Saya tidak kenal orang itu (Yesus).”  Petrus yang selalu berada di samping Yesus dan yang menjadi juru bicara untuk para rasul lain, kini menyangkal Yesus bahkan sampai tiga kali. Tentu saja rasa takut terhadap orang banyak menghantui Petrus sehingga dia menyangkal Yesus yang telah di akui sebagai Mesias dari Allah ketika menjawab pertanyaan Yesus sebelumnya, “Menurut kamu, siapakah saya?” (Mat 16,16). Petrus persis menyangkal Yesus di hadapan orang banyak dan itu berararti sebuah pukulan yang besar dan menyakitkan terhadap Yesus yang telah memilih dan menjadikan rasul-Nya. Menyangkali seseorang di hadapan orang banyak merupakan suatu pengalaman pahit, menyakitkan, dan memalukan. Apakah perasaan Yesus ketika mendengar penyangkalan Petrus? Apakah Yesus menyesal telah memilih Petrus?

Setelah dikhianati, ditinggalkan sendirian dan disangkal oleh rasul-rasul yang telah mengenal-Nya dan telah hidup bersama-Nya, Yesus kemudian disingkirkan dan dihukum mati oleh orang yang merasa terancam dengan kehadiran-Nya. Sebut saja tuduhan-tuduhan palsu yang disampaikan atau diteriakkan oleh massa yang telah diatur, telah di-stir oleh imam kepala dan pemuka agama Yahudi. Maksud tuduhan palsu itu tentu untuk menyudutkan dan menyingkirkan Yesus karena mereka takut kehilangan pengaruh dan wibawa religius di kalangan umat mereka. Pilatus, terbawa oleh tekanan dan desakan para pemuka agama Yahudi, akhirnya menjatuhkan hukuman mati terhadap Yesus. Ketika Yesus disalib pun cercaan dan sindiran terus terdengar, “JIka engkau Anak Allah, turunlah dari salib, selamatkanlah dirimu sekarang dan kami akan percaya kepadamu,” teriak atau sindiran orang banyak.


Apakah Yesus memang sendirian? Apakah Yesus diam dan tidak berbuat apa-apa?

************
Pusat atau tokoh utama dalam kisah ini adalah Yesus, Putera Allah. Meskipun Dia dikhianati, ditinggalkan, disangkal dan dihukum mati itu tidak berarti Dia pasif. Sebaliknya, Dia aktif, Dia adalah tokoh protagonis karena dalam sikap-Nya itu terungkap cinta-Nya yang tulus.

Pada titik ini saya mengingat Yesus ketika berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya, (Yoh 15,13).” Yesus dalam ucapan bahagia berkata, “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu  , berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu .Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali  kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka  dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak i  Allah Yang Mahatinggi,  sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.  Hendaklah kamu murah hati,   sama seperti Bapamu   adalah murah hati. (Luk 6,27-36: Mat 5,38-48).” Yesus berbuat baik terhadap orang-orang berbuat jahat terhadap-Nya.

Yang terjadi dalam seluruh hidup Yesus kemudian mencapai puncaknya dalam kisah sengsara dan wafat-Nya di salib merupakan perwujudan nyata, riil, dan kongkret dari semua kalimat yang terucap dari mulut-Nya. Kisah sengsara Yesus adalah kisah Kasih Allah kepadaku, kepada manusia seluruhnya. Yesus tentu saja tidak menyukai sengsara atau penderitaan. Tetapi Ia suka mencintai karena tidak mungkin Dia tidak mencintai. Besar, luas, panjang dan dalamnya kasih Yesus kepadaku dan manusia pada umumnya terungkap dalam salib-Nya. Ia tetap mencintaiku walaupun taruhannya adalah wafat di salib. Ia menerima salib-Nya kalau memang melalui salib itu terwujudulah dan tersingkaplah kasih-Nya. Kasih merupakan alasanya Dia menderita di salib. Oleh karena itu salib bukanlah simbol kegagalan apalagi simbol hukuman bagi orang jahat. Sebaliknya, dalam diri Dia yang tersalib saya menemukan dan mengenal Allah yang membalas kejahatan, dosa, pengkhianatanku dengan kasih. Dalam salib Yesus tidak diam melainkan dia menjawab semua tuduhan dengan kasih. Diam-Nya bukan diam bisu melainkan diam seorang manusia yang mengenal Allah dan yang tahun mengasihi.

Justru berangkat dari keyakinan ini dengan sukacita saya berseru lagi “Tuhan, Memang Engkau Hebat”. Seruan ini muncul dari imanku bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, yang hidup dalam sejarah kongkret manusiawi kecuali dosa. Dalam hidup-Nya, ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus menyingkapkan Allah adalah Kasih (1 Yoh 8, 8). Yesus mengerjakan dan melakukan apa yang dilakukan Bapa.  Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anaktidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri,   jikalau tidak Ia melihat Bapamengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. (Yoh 5,19)” Allah tidak bisa tidak mengasihiku, mengasihi manusia karena hakikat-Nya adalah kasih. Pekerjaan kasih adalah mengasihi, tidak ada yang lain, apapun dan berapapun harganya. Justru Allah inilah yang ditunjukkan Yesus dalam seluruh hidup-Nya yang berpuncak pada salib. Dalam diri Kristus yang tersalib saya menemukan dan mengenal Allah sebagai  Kasih. Allah membalas kejahatanku dengan mengampuni, “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat, (Luk 23, 34).” Dia menghukumku dengan mengasihiku. Atas dasar itu saya tidak bisa mengelak untuk memuji-Nya, “Tuhan, Engkau Hebat.”

Selamat Menikmati Tri Hari Suci,
Parma, 18 April 2014
Yanto


Sabtu, 12 April 2014

SUKA YANG BERDUKA

Dalam perarakan minggu palma kita sering menyanyikan  syair lagu ini : Hosanna Putra Daud, terpujilah yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel! Hosanna sembah sujud. Lagu ini dinyanyikan untuk menyambut Yesus ketika memasuki Yerusalem. Lagu itu mengisahkan kegembiraan hati, sukacita juga harapan kepada seorang raja yang masuk ke kerajaan tempat ia bertahta. Mereka berharap bahwa sang raja dapat membebaskan mereka dari segala belenggu eksternal yang memenjarakan mereka sekaligus berharap agar sang raja dapat mensejahterakan hidup mereka.

Di jaman Yesus, orang Yahudi berada di bawah tekanan politik orang Romawi. Pilatus adalah pejabat Roma yang ditugaskan untuk mewakili kaisar roma di daerah Palestina dan sekitarnya. Banyak segi dari kehidupan masyarakat yang diatur berdasarkan hukum romawi sehingga masyarakat mau tidak mau harus taat. Tidak hanya dari pihak Roma, orang Yahudi sendiri menguasai sesama mereka. Para pemuka agama Yahudi misalnya menjalankan perintah hukum Taurat secara tidak proporisional. Mereka mewajibkan umat untuk taat tetapi mereka sendiri berbuat semau mereka saja. Mereka membebankan umat untuk menjalan perintah yang mereka tafsirkan dari Hukum Taurat sementara mereka sendiri tidak melakukannya.

Dalam konteks seperti ini umat pada umumnya, yang merasa menjadi korban dari sistem pemerintahan dan religius yang diskriminatif, merindukan seorang raja yang dapat membebaskan mereka. Mereka tentu telah mendengar kisah Yesus yang telah membuat banyak mukjizat di kota-kota di luar Yerusalem. Ketika Yesus masuk ke Yerusalem menyambut-Nya dengan riang gembira dan penuh suka cita karena berharap bahwa Yesus dapat membawa perubahan, dapat membantu mereka untuk hidup bebas di tahah air mereka tanpa dikuasai lagi oleh orang Romawi. Singkatnya rakyat mengharapkan agar Yesus dapat menjadi raja politis yaitu raja yang dapat mengusir orang Romawai dari wilayah mereka. Berlatarbelakang pikiran dan kerinduan ini, mereka menyambut dengan sangat meriah dan sukacita Yesus yang masuk kota Yerusalam sambil bernyanyi, “Hosana.”

Namun beberapa hari kemudian, rakyat yang sama menginginkan agar Yesus dihukum mati. Di hadapan Pilatus, mereka berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia! Kami tidak mempunyai raja seperti Dia!” Mereka berasalan bahwa Yesus telah melanggar peraturan hari sabat dan terutama lagi telah menghujat Allah karena Yesus menganggap diri-Nya Putera Allah, yang mengenal dan yang berasal dari Allah.

Ketika dilihat lebih mendalam sebenarnya para pemuka agama Yahudi menghasut orang banyak ini atau umat untuk menuduh Yesus sebagai orang yang bersalah. Para pemuka agama Yahudi men-stir mereka dan meminta Pilatus menghukum mati Yesus di salib. Umat diarahkan dan dikondisikan oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang merasa terancam dengan kehadiran dan ajaran Yesus. Mereka merasa takut kehilangan pengaruh dan kepercayaan dari masyarakat. Perlu diingat bahwa justru orang-orang yang sama yang meneriakan “Hosana-hosana” saat  Yesus masuk kota Yerusalem dan mereka jugalah yang berteriak “Salibkan Dia!” di hadapan Pilatus.
**********
Dalam kisah ini saya perlu bertanya, saya berperan sebagai siapa? Kalau saya memposisikan diriku sebagai bagian dari kisah ini, saya bertindak: sebagai Yesus?, Pilatus? Para pemuka agama Yahudi? Ataukah saya berperan sebagai orang banyak yang berteriak “Hosana dan Salibkan Dia!?”

Sebuah contoh yang dekat di hadapan mata kita adalah melihat relasi PDIP dan Gerindra. Dua tahun lalu mereka bekerjasama untuk menggolkan pasangan Jokowi-Ahok. Seluruh proses untuk memenangkan pasangan ini menuju kursi DKI 1 dan DKI 2 merupakan moment ‘Hosana’, sukacita dan penuh harapan dalam relasi kedua partai. Apa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini? Yang terjadi adalah bahwa yang satu mencela, meremehkan, dan mau menguasai yang lain dengan segala cara. Aktor-aktor yang terlibat di dalamnya adalah mereka yang pernah duduk bersama, yang pernah bersatu, yang pernah membangun satu visi dan misi yang sama (baca harapan) bahkan sama-sama berteriak, “Horee, kita menang”, saat usaha mereka berhasil.

Mungkin dalam dunia politik hal semacam ini dianggap lumrah/biasa, tapi apa jadinya jika teriakan “Hosana dan Salibkan Dia!” terdengar dalam keluarga yang awalnya dicintai tapi kemudian dibenci? Setelah sekian lama hidup bersama dan karena satu dan lain hal, yang satu meninggalkan yang lain. Kisah yang awalnya dijalin dengan baik, penuh sukacita dan harapan harus berakhir dengan kisah sedih, berakhir duka. Yang satu meninggalkan luka mendalam pada yang lain karena merasa tidak mampu lagi bertahan. Yang jadi korban tentu saja pihak yang lemah juga anak-anak. Saya berangkat dari pengalaman yang sedang saya hadapi di mana banyak anak yang bertingkah tidak sebagaimana mestinya karena melihat orang tua mereka yang berpisah. Mereka sedih dan berontak melihat dan mengalami apa yang mereka hadapi dalam keluarga mereka.

Hal serupa bisa dilihat dalam nasib orang tua yang ditinggalkan anak-anak mereka sendiri. Ketika seorang anak lahir dalam keluarga, orang tua sangat bahagia. Rasa bahagia ini mereka (orang tua) ungkapkan dengan penuh kasih sayang dengan memperhatikan dan memenuhi kebutuhan sang anak agar bisa bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang mandiri dan dewasa. Ketika sang anak menjadi dewasa, ia mengejar mimpinya dan mengorbankan banyak hal, termasuk melupakan orang tua, demi mewujudkan mimpinya. Dengan alasan seperti ‘demi karir’ sang anak memisahkan diri dari orang tua yang tak jarang berakhir di panti lansia atau ditelantarkan. Bagi sang anak, ‘mengejar karir’ adalah mimpi yang membawa sukacita tapi bagi orang tua yang lanjut usia ‘ditelantarkan anak sendiri’ adalah salib. Apakah saya termasuk dalam golongan ini?

*********
Kisah sengsara Yesus yang kita dengar dalam pekan suci ini adalah kisah Putera Allah yang
sangat yakin dengan misi-Nya, yang sangat yakin akan besarnya kasih Allah Bapa kepada kita. Dalam seluruh hidup-Nya, Yesus mewujudkan kasih Allah yang tak bersyarat ini. Karena itu kisah sengsara dan wafat-Nya adalah kisah Kasih Allah kepada kita. Yesus bukan tipe manusia yang suka menderita (masokis) melainkan kisah manusia yang mengenal Allah juga manusia yang tahu mengasihi. Jadi, di hadapan kita yang berteriak, “Hosana dan Salibkan Dia!”, Yesus meresponnya dengan cinta dan pengampunan, “Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk 23:34).”

Namun jangan lupa bahwa kisah Yesus ini merupakan juga kisah hidup kita. Kisah para tokoh atau lebih tepat respon tokoh-tokoh di sekitar Yesus juga kisah para tokoh yang kontro dengan-Nya adalah cermin kisahku da kisah kita. Reaksi Pilatus, imam-imam kepala, orang banyak, Yudas, dan para rasul lainnya merupakan gambaran kisah dan respon kita terhadap rencana Allah. Kalau kita mau jujur, sikapku dan sikap kita terhadap sesama terungkap seperti dalam kisah-kisah ini.

Selamat Memasuki Pekan Suci

Parma, 12 April 2014
Yanto





Senin, 31 Maret 2014

Quando si innamora…



Il 25 gennaio 2014 scorso la chiesa ha fatto la festa della conversione di San Paolo Apostolo (At 22, 3-16; At 9, 1-22). Lui era un ebreo osservante ma dopo aver incontrato Gesù è diventato cristiano seguendo la Sua via. Il giorno seguente, la terza domenica del tempo ordinario anno A, la chiesa ci ha presentato la chiamata di Pietro, Andrea, Giacomo e Giovanni secondo il vangelo di Matteo (4,12-17). Loro, dopo aver visto e ascoltato l’invita di Gesù, hanno lasciato il mare e le loro barche.

È interessante entrare in profondità nell’intima disposizione delle persone soprattutto di Paolo e Pietro. Perché credo che ci sia una cosa significativa che mi tocca davvero, mi fa piacere approfondire. Paolo era un Giudeo praticante e esperto alla legge ebraica. Era stato formato/educato alla scuola di Gamaliele nell’osservanza scrupolosa della legge dei padri, pieno di zelo per Dio (At 22,3) per cui aveva una grande passione per la legge. Partendo da questa sua passione egli sapeva quello che doveva o non doveva fare. Credeva che essendo ebreo dovesse custodire la legge come era scritta. Amare e custodire la legge era la sua chiamata ad essere un buon ebreo. Lo stesso atteggiamento si vede nel comportamento di un sacerdote nel racconto del buon samaritano (Lc 10,25-37). Un sacerdote vedendo un uomo ferito sulla strada passa tranquillamente senza dare un aiuto come se quel ferito non dovesse interessarlo. Mi sembra che lui stesse andando a Gerusalemme per fare il culto e per farlo bene bisognava evitare l’impurità, cioè le cose che potessero impedire la purezza del rito cultuale. Mi sembra che la legge per lui avesse più valore che l’uomo/valesse più dell’uomo. Si dà la precedenza alla legge anziché all’uomo.

Torniamo a Paolo. Amando la legge giudaica, andò a chiedere il permesso ai capi sacerdoti per perseguitare i discepoli di Gesù, i membri della chiesa nascente. Dopo aver ricevuto il permesso mentre andava a Damasco sulla strada Gesù gli è andato incontro e lo mandò come apostolo delle genti. Incontrando Gesù Paolo è cambiato; è stato aiutato a conoscere Dio in un modo nuovo rispetto al prima. Gesù ha cambiato la sua passione dalla legge all’amore gratuito di Gesù. L’amore di Gesù l’ha conquistato e ha cambiato la direzione della sua vita.

Passo adesso a Pietro. Lui era un pescatore. Ogni giorno lavorava con la barca e la rete pescando i pesci, per cui conosceva benissimo il suo mestiere. Aveva una grande interesse per il pescare perché da lì dipendeva la sua vita. Direi che lui era l’esperto nel pescare come Paolo era l’esperto nella legge. Incontrando e ascoltando la novità delle parole di Gesù che è venuto a trovarlo dove lavorava lui, Pietro ha lasciato il lago, la barca e la rete. La risposta di Pietro fu immediata. La persona e le parole di Gesù lo attiravano come se fossero i pesci che doveva pescare. Gesù lo aveva chiamato per pescare in un altro mare diventando pescatore di uomini. Andò a seguire Gesù lasciando la barca e la rete, ma portando con sé lo zelo di un pescatore che aveva desiderio di pescare tanti pesci. Direi che la barca e la rete per Pietro erano le cose preziose dalle quali dipendeva la sua vita quotidiana. Ma dopo aver incontrato Gesù si trasformò: Gesù divenne il centro della sua vita, una persona preziosa che lo attirava più di ogni altra cosa. L’attenzione di Pietro passò dalla propria vita a Gesù, al Suo modo di agire e di vivere.

La cosa che accomuna questi due personaggi è l’incontro con Gesù. L’incontro con il Salvatore gli ha permesso di trasformare il loro interesse. Paolo era appassionato alla legge ebraica ma dopo aver incontrato Gesù questa sua passione si trasformò in amore per Lui servendolo e annunciandolo alle genti. Pietro aveva una grande interessa per la pesca con la quale si guadagnava da vivere, ma dopo aver ascoltato Gesù il suo interessa per la pesca lo portò a diventare pescatore di uomini, cioè a salvare la vita degli altri, a dare un senso nuovo alla vita dalla gente nell’ottica dell’amore di Cristo. Gesù li sceglie usando il loro interesse o la loro passione con un nuovo obiettivo: l’amore di Gesù, il Figlio di Dio. Dunque Gesù ha rivolto l’amore di Paolo dalla legge all’amore gratuito; Gesù ha rivolto l’interessa di Pietro dal pescare i pesci al pescare gli uomini perché diventino credenti con uno spirito nuovo: lo spirito di Cristo redentore. Mi sembra che questi due personaggi siano i modelli di coloro che innamorano alla persona e alla parola di Gesù. La vita e l’atteggiamento di ogni discepolo di Gesù Cristo dovrebbe essere così specchiando alla vita e l’atteggiamenti di Pietro e Paolo.


Che cosa succede a me? Quale interesse o passione mi è stata trasformata da Gesù perché io possa diventare ciò che vuole Lui? Parlo delle cose che devono essere trasformati dal suo modo di vivere perché mi piace rimanere nel mio egoismo, nel mio mondo. Mi piace essere al centro degli altri come se fossi una persona importantissima. Mi piace fare le cose che mi danno soddisfazione. Papa Francesco ha sottolineato bene e chiaro il rischio del rimanere nel egoismo dicendo, “Quando la vita interiore si chiude nei propri interessi non vi è più spazio per gli altri, non entrano più i poveri, non si ascolta più la voce di Dio, non si gode più della dolce del suo amore, non palpita l’entusiasmo di fare il bene, (EG no.2).” Credo che per poter essere conquistato dall’amore di Cristo io abbia bisogno di buttare via questi atteggiamenti e pensieri. So che ho la responsabilità di fare tutto ma so anche che non posso farlo da solo usando la mia capacità meramente umana. Vorrei che Gesù mi aiutasse a mutare l’obiettivo della mia vita, rendendolo totalmente nuovo. 

Senin, 13 Januari 2014

Gesù si mescola con i peccatori

Il nostro brano di oggi viene inserito dopo il racconto dell’infanzia del Signore (1,1-2,23) e la predicazione di Giovanni Battista che annuncia Colui che viene con lo Spirito Santo (3,1-12). Il battesimo (3,13-17) viene seguito dal brano della tentazione del Signore nel deserto (4,1-11). Per cui il battesimo di Gesù è l’inizio della sua missione pubblica: annunciare il Regno di Dio.

La prima cosa che mi ha colpito molto è l’atteggiamento: i gesti di Gesù. Possiamo immaginare che nel fiume di Giordano ci sia tanta gente. Gesù è uno tra la gente, tra i peccatori. Il primo gesto che il Messia, il Figlio amato da Dio, compie è quello di mescolarsi con i peccatori. Gesù si mescola in mezzo ai peccatori che vengono da Giovanni per farsi battezzare, per cambiare la vita. Gesù identifica se stesso con i peccatori senza peccare. Cosa significa questo? Gesù vuole far vedere il rapporto di Dio verso noi, i peccatori. Nonostante la sua trascendenza rispetto a noi—Lui è divino, noi siamo umani; Lui è santo, noi siamo peccatori—Lui viene ad incontrarci lo stesso, senza creare alcuna distanza. A questo punto mi vengono in mente le parole di San Paolo ai Filippesi 2,5-11:
5 Abbiate in voi gli stessi sentimenti che furono in Cristo Gesù,
6 il quale, pur essendo di natura divina,
non considerò un tesoro geloso
la sua uguaglianza con Dio;
7 ma spogliò se stesso,
assumendo la condizione di servo
e divenendo simile agli uomini;
apparso in forma umana,
8 umiliò se stesso
facendosi obbediente fino alla morte
e alla morte di croce.
9 Per questo Dio l'ha esaltato
e gli ha dato il nome
che è al di sopra di ogni altro nome;
10 perché nel nome di Gesù
ogni ginocchio si pieghi
nei cieli, sulla terra e sotto terra;
11 e ogni lingua proclami
che Gesù Cristo è il Signore, a gloria di Dio Padre.

Gesù si spoglia e umilia se stesso. Gesù si mescola con i peccatori. Questo è l’inizio di tante scene nel vangelo che ci mostrano la stessa idea: Dio viene a trovarci. Possiamo ricordare il volto di un Dio che esce a cercare la pecora smarrita (Mt 18,12-14; Lc 15,3-7), che attende il ritorno del figlio perduto (Lc 15,11-32), che non giudica la donna peccatrice/adultera (Gv 8,1-11), che si ferma nella casa di Zaccheo (Lc 19,1-10), che si prende cura del gesto del buon Samaritano (Lc 10,29-37), che si propone l’amore dei nemici (Lc 6,27-35), che banchetta con i peccatori (Mt 9,10-13; Lc 5,29-32), e alla fine muore sulla croce pronunciando parole di perdono (Lc 23,33-34). Allora, fin dall’inizio della sua vita pubblica e della sua missione, Gesù ci mostra chi è Dio e qual è il suo progetto per noi. Tutto questo mi ha spinto a dire che l’atteggiamento di Dio verso di noi è l’atteggiamento dell’incontro. Lui viene ad incontrarci affinché possiamo conoscerlo e avere un rapporto giusto con Lui. La sua logica è la logica dell’abbassamento. Lui prende l’iniziativa per primo. È chiaro che il motivo per cui Lui si relaziona con noi e si mescola con i peccatori è l’amore, perché ci siamo sentiti amati da Lui. Dice Zaccaria nel suo cantico, “per dare al suo popolo la conoscenza della salvezza nella remissione dei suoi peccati”. In Gesù Dio si relaziona con noi: Dio crea un rapporto con noi basando sull’amore gratuito perché abbiamo la vita piena o vivificante.

Partendo da questa convinzione ci chiediamo e riflettiamo sulla nostra abitudine religiosa e sulla nostra relazione con Dio. Andiamo alla messa spesso e facciamo la lectio divina. Per quale motivo lo facciamo: per ringraziare o per paura o per avere qualche merito? Qual è il senso di essere cristiano oggi?

Allo stesso tempo non possiamo negare il nostro rapporto relazionale l’un l’altro. Umanamente ho bisogno di un aiuto o sostengo dall’altro per mantenere o custodire il mio essere e viceversa. Il mondo ci sta mostrando un rapporto utilitaristico e competitivo che si basa sull’utilità e la competizione. Mi sembra che i problemi nascano proprio da questo rapporto. Al contrario il vangelo ci offre un rapporto dell’amore, dell’incontro dove si mette ugualmente l’un l’altro. Un cristiano ovviamente dovrebbe essere coerente con la logica del vangelo. Qual è il mio modo nel mio rapporto con gli altri?

Un altro punto su cui mi interessa riflettere è la disponibilità di Gesù a farsi battezzare da Giovanni. Come sappiamo già, prima che Gesù inizi la vita pubblica, Giovanni Battista sta predicando il suo invito alla conversione. Tante persone si stupiscono davanti al suo invito e vengono da lui a farsi battezzare. Lo scopo del battesimo di Giovanni è la conversione. La gente va da lui perché vuole cambiare la vita e per diventare uomini nuovi. La gente riconosce il proprio peccato, i propri difetti, gli sbagli. Vuole vivere e cominciare una vita nuova: è questo un atteggiamento nuovo davanti a Dio e l’uomo.

Gesù viene da Giovanni a farsi battezzare. Perché? Lui non ha i peccati, gli sbagli o i difetti. Per cui Giovanni si stupisce vedendo Gesù davanti a sè e vuole impedirgli di essere battezzato dicendo, “Sono io che ho bisogno di essere battezzato da te, e tu viene da me?” Giovanni sa che Gesù è il Messia, è il più grande di lui. Si vede l’umiltà di Giovanni, il grande profeta. Ma Gesù gli risponde, “Lascia fare per ora, perché conviene che adempiamo ogni giustizia.” Perché Gesù vuole ricevere il battesimo da Giovanni?

Sappiamo già che il brano che meditiamo adesso è il brano che ci parla dell’inizio del ministero pubblico di Gesù come Messia. Ciò vuol dire che la vita di Gesù sta per cambiare completamente. La sua vita cambia: dalla vita nascosta, tranquilla insieme con i suoi parenti a Nazareth Gesù passa alla vita pubblica, più impegnativa e pericolosa in cui si sposta da una città all’altra in Palestina. Gesù sa bene che la sua vita non è solamente per se stesso ma soprattutto per Dio e per gli altri/il prossimo. Gesù va da Giovanni non perché vuole convertirsi dei suoi peccati/sbagli; anzi, Lui non ha nessun peccato. Egli va da Giovanni perché vuole iniziare una nuova vita e la missione che lo sta aspettando. Il suo battesimo è lasciare dietro il suo progetto personale, i parenti e gli amici per fare la volontà di Dio. Il suo battesimo è dimenticare se stesso per poi entrare nella logica di Dio, nella logica dell’amore gratuito e del donare la propria vita per la vita degli altri. Lui sta lasciando il suo progetto personale per aderire al progetto del Padre. Per cui nel versetto 17 risuona una voce dal cielo che dice, “Questi è il Figlio mio, l’amato: in lui ho posto il mio compiacimento.”

Partendo da questa riflessione ci chiediamo: quale aspetto è stato cambiato della mia vita (il modo di agire, pensare, vivere) credendo in Gesù Cristo, ricevendo il battesimo? Quale momento della vita è stato per me cruciale nel comprendere e aderire al progetto di Dio su di me? Partendo dal battesimo di Giovanni, per la conversione e il riconoscimento dei nostri errori/peccati, come viviamo questo aspetto? Come viviamo il sacramento della riconciliazione?




Selasa, 20 Agustus 2013

BERNADETA, NAMA GADIS ITU!

Di depan Gua Maria Lourdes





“……Awalnya, saya datang ke sini, Lourdes(Perancis), karna rasa penasaran. Saya ingin tahu apa yang orang-orang lakukan di sini, apa yang sedang terjadi di sini dan seperti apa Lourdes itu. Saya adalah orang Katolik sejak kecil tapi telah lama saya tidak mempraktekkan kekatolikanku. Telah lama saya menjauhkan diri dari aktivitas parokiale-eklesiale. Ketika sahabatku mengajakku ke sini, saya menyetujuinya demi memenuhi rasa ingin tahuku. Ketika tiba di sini saya ikut berdoa
bersama yang lain, melakukan prosesi, mengunjungi gua dan meminum air dari gua. Kesanku
Peziarah yg sedang mengambil air utk diminum
selama mengikuti ziarah dan selama berada di sini adalah bahwa sakit-penyakitku tetap ada tetapi ketenangan batin yang kualami lebih besar dan lebih memuaskan meskipun tak kusangkali kerinduanku untuk disembuhkan secara fisik. Di tempat ini saya menemukan kekuatan spiritual yang membantuku menanggung penderitaan fisikku karena kuyakin bahwa Madonna (Santa Maria) mendengarkan doaku dan mendoakanku selalu….,..
  ”(kisah seorang ibu yang telah berziarah ke Lourdes lebih dari lima kali yang kukisahkan ulang…)
Basilica de Rosari dan di bawahnya, pada bagian kiri terletak Gua Maria Lourdes

Kisah di atas merupakan sebuah kisah dari sekian kisah yang kudengar dari orang-orang sakit yang kubantu selama berziarah ke Lourdes (8-13 agustus 2013) dengan UNITALSI regio Lombarda. Setiap peziarah terutama yang sakit mempunyai kisah dan alasan personal saat berziarah ke sana. Salah satu alasan yang kuat yang membuat banyak peziarah datang ke Lourdes adalah sumber air atau mata air yang terdapat dalam gua. Dalam salah satu penampakan Bunda Maria kepada Bernadeta, Bunda Maria meminta Bernadeta untuk memakan dedaunan demi pertobatan dan meminum air dari sumber air—yang muncul setelah Bernadeta menggaruk tanah tempat di mana Bunda Maria memintanya—untuk penyucian diri. Sampai sekarang para peziarah dapat menikmati segar dan sejuknya air itu. Di
bagian kiri dari gua ada banyak kran air di mana sejak pagi hari dari jam 05.30 sampai jam 12.00 malam hari selalu ada orang yang antri untuk meminum airnya atau mengambil airnya sebagai ole-ole ke rumah. Di bagian kanan dari gua dapat ditemukan 2 bagian khusus untuk mandi bagi laki-laki dan permpuan. Setiap hari di dua tempat ini selalu ada antrian panjang untuk meminum air atau untuk mandi.

Sejauh pengamatanku selama 5 hari di sana, para peziarah datang dari berbagai penjuru dunia. Peziarah dari Eropa lebih banyak dari peziarah dari Amerika, Afrika dan Asia. Peziarah Asia sebagian besar berasal dari Bangladesh dan sekitarnya, dari Filipina, Cina, Korea dan tidak ketinggalan para peziarah Indonesia yang sayangnya kuketahui dua hari terakhir sebelum balik ke Parma.
Gua Maria Lourdes, Prancis

Para peziarah ini pada umumnya datang dalam grup seperti kami. Masing-masing grup mempunyai jadwal kegiatan tersendiri bahkan bisa merayakan misa dalam bahasa asal para peziarah. Di malam hari ada prosesi Flambou, perarakan Bunda Maria di mana masing-masing orang membawa lilin berwarna. Selama perarakan ini secara bersamaan para peziarah mendoakan rosario dalam berbagai bahasa dan menyanyikan lagu-lagu Maria dalam berbagai bahasa, termasuk lagu Ave Maria dalam bahasa Indonesia. Dua hari sebelum kami pulang kembali ke Italia telah tiba di Lourdes para peziarah Perancis. Jumlah mereka lebih banyak dari kami. Para relawan dari peziarah Perancis adalah anak-anak muda usia SMA atau mahasiswa. Melihat mereka, melihat relawan dan peziarah Perancis ini, saya merasa senang dan sangat terkesan. Perasaan senangku cukup berasalan karena akhir-akhir ini saya selalu mendapat berita dan mempunyai kesan bahwa
Gua Maria Lourdes dari seberang kali, dari bagian utara
Gereja di Perancis tampaknya semakin lama hamper tak terdengar suaranya bukan hanya karena jumlah umatnya yang menurun melainkan juga karena ada banyak pihak yang melawan atau beroposisi dengannya. Namun ketika saya melihat para peziarah dan relawan Perancis yang masih sangat muda dan penuh antusias, pandanganku mulai berubah. Di hadapan mereka, saya melihat bahwa Gereja di Perancis masih ada dan masih hidup. Orang-orang muda ini akan mewujudkan mimpi itu dan menerusakannya.

Lalu, apa yang kutemukan dalam perjalananku ke Lourdes? Saya merasa sangat puas, sangat senang dan sangat bahagia selama berada di sana. Saya senang dan puas karena bisa membantu orang sakit mewujudkan kerinduan spiritual mereka. Pekerjaanku hanyalah mendorong kursi
roda orang-orang sakit dan mendengar kisah hidup mereka yang cukup menyayat hati. Pekerjaanku ringan
Bagian atas Basilica de Rosari
namun saya bahagia karena dapat membantu mereka, orang-orang sakit ini, mewujudkan mimpi mereka untuk menemukan kesejukan spiritual. Dalam rasa puas yang mereka alami terungkap pula rasa puasku. Saya senang bisa menjadi alat yang membantu mereka bahagia dan senang.





Saya merasa senang dan gembira terutama karena bisa berada di sana dan menyaksikan banyaknya peziarah yang hadir dan datang untuk berdoa yang tentunya mencari Sang Sumber Air Sejati. Selama berada di tempat ini saya begitu yakin bahwa saya dan semua peziarah datang untuk memasrahkan hidup mereka kepada Tuhan. Banyak motivasi konkret terpatri dalam diri tiap peziarah tapi semuanya terarah pada satu kerinduan untuk mencari, mengenali dan mengalami kehadiran Tuhan. Secara konkret kerinduan itu terungkap dalam pengampunan yang diterima dalam sakramen rekonsiliasi, daslam uluran tangan para relawann, dalam ketegaran hati si sakit dalam menanggung penderitaannya termasuk dalam sejuk dan segarnya air dari gua Maria Lourdes. Oh Tuhan terima untuk segalanya itu!!!
Bagian atas dari Basilica de Rorasi



Namun jangan lupa bahwa semua kesan, kisah, dan pelayanan di atas terjadi karena peran seorang gadis belia, seorang gadis buta huruf yang berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Bernadeta, nama gadis itu! Sebelum terjadi penampakan Bunda Maria kepada Bernadeta, gua ini sebelumnya merupakan tempat 
Di depan Basilica de Rosari
mengungsi saat hujan bagi orang yang mencari kayu di sekitarnya dan bagi para penggembala. Namun kini gua itu mempunyai makna spiritual yang mendalam. Gua itu kini berfungsi sebagai sumber kesejukan dan kesegaran serta pembaruan spiritual bagi orang banyak. Gua itu kini menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai bangsa dari seluruh dunia dengan perbedaannya di mana perbedaan itu di sini tidak dipertentangkan sebagai konflik. Gua itu kini menjadi tempat anak-anak muda dan para relawan ber-compassione dengan orang-orang sakit. Benarlah apa yang dikatakan oleh Mgr. Nicola, uskup di Lourdes dan sekitarnya, ketika mengatakan bahwa Gua Maria di Lourdes adalah tempat oarang belajar tentang hidup, la scuola di vita. Singkatnya dapat dikatakan bahwa kesediaan Bernadeta mendengarkan pesan

St. Bernadeta
Bunda Maria membantu orang banyak untuk bertobat dan membarui hidup iman mereka.

Santa Bernadeta, engkau telah berperan besar bagi hidup iman para peziarah dari generasi ke generasi. Doakanlah saya dan bantulah saya untuk mempunyai iman dan keberanian sepertimu. Doakanlah juga sahabatku yang menyandang nama Bernadeta untuk menjadi sepertimu: menjadi alat dan tempat di mana orang lain dapat menemukan kedamaian, sukacita dan harapan dalam suka duka hidup mereka. Amin.







@@@@@@@@@@@@@@@@@@@


Salah Tebak, apes deh!!

Bersama Rm. Y. Olla dan Rm. Erwin, MSF di depan gua


Pagi kedua di Lourdes, saat ikut misa pagi di Basilika de Rosario saya melihat 2 orang suster. Wajah mereka mirip sekali wajah orang Flores dengan rambut khas seperti orang NTT pada umumnya. Saya yakin bahwa 2 suster ini pasti berasal dari Indonesia. Segera setelah misa saya mencari mereka dan ketika kujumpai mereka saya bertanya, “Suster dari Indonesia ya?”. “Oh bukan, kami bukan orang Indonesia. Kami berasal dari Madagaskar,” jawab salah seorang dari mereka dalam bahasa Italia. Dengan segera saya mengucapkan “Grazie” dan langsung balik kanan.

Foto bareng dgn para relawan dari Cremona,,,
Hari berikutnya, di tempat yang sama, tepat di belakangku ada dua orang suster. Satu berwajah seperti orang dari Manado dan yang satunya lagi berwajah mirip orang Jawa. Dalam hatiku saya meyakinkan diri bahwa kali ini saya tidak akan keliru lagi seperti hari sebelumnya. Setelah selesai misa saya keluar mengikuti mereka dan sesampainya di luar saya mendekati mereka serta bertanya, “Suster dari Indonesia ya?” “What? I don’t understand what you mean?”, jawab salah satu dari mereka. “Ohh…I mean, I want to know where do you come from? Are you Indonesians?”, lanjutku. “Oh no! We come from philippines. And you? Where are you from?” “I am Indonesian” Untuk beberapa saat kami sempat berkomunikasi tetapi tetap tidak bisa kusembunyikan rasa malu karena salah tebak dua kali. Hari berikutnya tanpa kucari-cari, di depan gua Maria, saya bertemu dengan beberapa orang Indonesia. Kerinduanku untuk bicara bahasa Indonesia dengan sendirinya terobati…

 


Parma, 17 Agosto 2013

Minggu, 16 September 2012

Saat-saat sebelum hijrah dari CPR-42 ke Viale San Martino, Parma (3) Sejumlah ekor ayam menjadi saksi sukacita ini…..


Aktivitas pertama yang kulakukan dalam liburan ini adalah mencari parang milikku dan melihat pohon Mahoni yang berjumlah 3 pohon yang kutanam tahun 1997. Dalam pengalaman liburan sebelumnya, mereka selalu kulihat sesaat setelah saya tiba namun kemarin hal itu tidak bisa kulakukan karena waktu tidak memungkinkan, sudah mulai redup. Seingatku saya menanam mereka beserta beberapa pohon kopi di belakang rumah yang sampai sekarang juga masih ada.
Usia mereka sekarang 15 tahun. Banyak perkembangan yang telah mereka alami: semakin tinggi, diameter mereka semakin lebar dan tampaknya sudah cukup umur untuk difungsikan. Melihat mereka dengan keadaan yang sekarang saya merasa sangat bangga karena dalam mereka saya menemukan jejakku. Perubahan dan perkembangan mereka menandai juga perubahan dan perkembangan pribadiku. Saya berharap demikian.
Sekembalinya ke rumah, ibuku telah menyediakan tete kokor (ubi rebus) yang masih panas dengan kopi hangat di pagi yang masih terasa dingin. Sayangnya saya tidak menyukai kopi maka saya melahap tete kokor dengan segelas teh hangat. Rasanya enak sekali dibandingkan dengan jenis ubi dengan ramuan yang sama yang pernah kumakan di Jakarta. Kumaklumi perbedaan itu karena ubi yang kumakan ini baru saja diambil langsung dari kebun belakang rumah. Kalau ubi yang kusantap di Jakarta telah lama berada di pasar sebelum akhirnya dibeli oleh Ibu Thres, ibu yang memasak untuk para frater dan pastor di CPR-42. Lebih nikmati lagi melahap tete tapa (ubi bakar) yang juga dibuatkan ibu untuk saya. Pokoknya pagi pertama ini sungguh menyenangkan. 
Seusai sarapan, makan tete kokor dan tete tapa dengan segelas teh, saya pergi mandi dan menimba air di Wae Bak, air yang ditampung pada sebuah bak yang digunakan oleh seluruh warga kampung Ponceng Kalo yang berjarak 500 meter dari rumahku. Suasana di tempat timba air dan mandi ini cukup ramai karena sudah ada beberapa orang di sana yang hendak melakukan ritual yang sama sepertiku. Perbincangan pun tidak bisa dihindarkan walaupun sekadar hanya bernostalgia sejenak. Pada umumnya mereka selalu menanyakan apakah saya masih ingat pengalaman-pengalaman lama yang pernah kualami bersama saat masih menetap di kampung ini.
Ketika saya berkunjung ke beberapa rumah keluargaku di Ponceng Klao, mereka selalu bertanya tentang pengalamanku bersama mereka di kampung ini. Spontan saya menjawab bahwa tidak mungkin saya melupakan semuanya itu karena itulah sejarah hidupku meskipun akhirnya saya perlu mengingat bagaimana persisnya dulu itu. Mau tidak mau pertanyaan-pertanyaan mereka membawaku kembali pada masa kecil dan masa 2 tahun nganggur setelah tamat sekolah dasar. Di antaranya adalah setiap hari pasar, hari Sabtu, saya pergi lemba nio (pikul kelapa untuk dijual), jual pisang, jual kemiri, hingga jual sangkar ayam,  ke Werang dan uangnya akan digunakan untuk membeli keperluan rumah tangga untuk satu minggu ke depan seperti minyak tanah, garam, keperluan mandi dan cuci, bahkan untuk membeli beras. Tidak hanya itu saja, saya teringat pula akan usaha kecil yang pernah kulakukan yang dalam ungkapan umum kami saat itu sering disebut mencatut atau menjadi tengkulak. Artinya saya membeli barang tertentu untuk kemudian dijual lagi. Di antaranya adalah mencatut gula, garam dan rokok. Sesampainya di rumah saya menjual kembali barang-barang itu dengan harga sedikit naik sehingga ada laba yang bisa kuambil. Catutan terakhir yang masih kuingat adalah membeli kemiri milik ayahku dengan harga pasar sebelumnya. Ternyata ketika saya hendak menjualnya lagi, harga kemiri tersebut sudah beda, sudah turun dari harga beli yang kuambil. Mau tidak mau saya tetap menjualnya dan akhirnya saya rugi…apesssss dehh…!!! Ketika bertemu dengan teman-teman sebayaku, yang saat ini pada umumnya telah menikah, pengalaman kerja di proyek sering diungkit misalnya ketika kami mengikuti proyek menanam pohon ampupu, akasia dan mahoni di sekitar Wae Leong maupun proyek cake salang (pelebaran jalan raya) Taal-Werang. Sebagian besar misa hari Minggu terutama setelah 2 tahun tamat dari SD tidak saya hadiri karena saya dan teman-teman seperti Kraeng Ikong, Godo, Oman, Hanes Himin dan kae Frans Selami pergi menjelajahi beberapa kali atau sungai untuk mencari katak, belut maupun ikan. Tidak kulupakan pengalaman kerja julu (gotong royong) kebun saat walis (musim kering), menjaga kebun, sampai pergi mencari wase werek (sejenis tali yang merambat) di hutan Nggoang dan sekitarnya dan masih banyak pengalaman lainnya yang tentunya diwarnai oleh kesuksesan dan kegagalan.

Saat bersama ayah dan ibuku sering juga hal serupa di atas mereka tanyakan. Atau bahkan saya yang bertanya kepada mereka bagaimana persisnya kejadian tertentu di masa lalu yang pernah kubuat. Kadang juga saya mencari tahu bagaimana sikap dan kenakalanku saat masih kecil dulu. Semuanya itu dan terutama saat berada bersama ayah dan ibuku kurasakan sebagai saat yang  nyaman dan hangat sekali. Kebersamaan dengan mereka bagiku merupakan saat yang intim. Banyak kegiatan yang kulakukan bersama mereka. Ikut menyiapkan makanan babi seperti kiru saung tete, kiru culi lalu menumbuknya, kikir nio sampai me-naang kina sering kulakukan. Pergi menimba air, kadang pagi kadang juga sore hari. Ikut pergi ke pasar menjual kelapa sampai ikut menumbuk padi. Saat mereka menghadiri acara adat di keluarga besar Batu Mese saya selalu ikut dan ikut sibuk di belakang, sebagai ngara beang.
Banyak cerita kubagikan dan kudengar dari mereka yang biasanya terjadi saat menanti masakan untuk makan malam atau sesudah makan malam kami bertiga di ruang tamu menceritakan kisah kami masing-masing. Dari cerita ini saya menangkap bahwa hal yang mereka inginkan adalah kesehatan sehingga mereka bisa sehat saat kami berlibur di kesempatan berikutknya sekaligus supaya mereka dapat bekerja untuk membiyai adik-adik yang masih sekolah. Mereka juga sangat mengharapkan supaya setiap liburan kami datang atau kalau tidak memungkinkan, seharusnya kami menelpon mereka sesering mungkin. Hal ini dapat kupahami karena mereka sangat merindukan sekaligus mencemaskan keadaan kami. Hatiku senang ketika mendengar semuanya ini dan saat perpisahanku secara langsung saya melihat air mata turun membasahi pipi mereka. Kumaknai itu sebagai ekspresi dari kerinduan mereka supaya saya selalu hidup dalam diri mereka.
Mengingat pengalaman-pengalaman di atas membuatku begitu bergembira dan termotivasi. Saya seakan-akan dibawa kembali ke masa itu yaitu ketika saya terlibat langsung. Pengalaman-pengalaman itu ternyata membentuk diriku yang sekarang ini. Semangat kerja, ketekunan, dan sikap mau berusaha menjadi lebih baik yang ada padaku sekarang ini ternyata buah dari sejarah hidupku yang lalu. Di sini saya teringat akan seorang pemikir humanis, August Comte, yang menegaskan bahwa perkembangan sejarah dan kemajuan terbentuk  oleh apa yang dia sebut sebagai positivisme. Manusia akan maju dan berubah ketika manusia beralih dari takhyul bahkan filsafat menuju ke ilmu-ilmu positif yang bisa dikalkulasi atau diukur. Bagiku, sejarah kutentukan oleh saya yang memilih bertindak tertentu dalam konteks tertentu.
Sementara itu, melihat ekspresi cinta orang tua dan keluarga yang demikian besar timbullah  pertanyaan ini dalam diriku: bagaimana saya membalas budi kepada mereka? Bagaiamana saya mengingat mereka. Menyebut mereka dalam doa-doaku tentunya menjadi sebuah wadah relasionalku dengan mereka. Dengan menyebut mereka, saya senantiasa terhubung, berelasi dan bersatu dengan mereka. Lebih dari itu saya bertekad untuk membalas budi baik mereka dengan mengembangkan apa yang telah mereka tanamkan dalam diriku.
Kusadari bahwa diriku yang sekarang ini menjadi seperti ini karena kasih sayang dan pengorbanan mereka. Mereka telah mencintaiku dengan begitu dahsyat sehingga saya dapat hidup sebagaimana sekarang ini terjadi. Maka hal yang bisa kulakukan adalah mengembangkan dan meningkatkan apa yang telah mereka tanamkan. Mereka telah menanamkan kasih, kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, maka saya perlu melanjutkan semuanya itu kepada orang lain yang kujumpai karena hal-hal itulah yang mereka wariskan kepadaku. Jadi, saya membalas budi mereka dengan mengembangkan warisan yang mereka warisi. Mereka tentu bangga dan bahagia melihat apa yang mereka ajarkan atau tanamkan dalam diriku terlaksana dan berbuah pada diriku. Sama seperti seorang guru yang bangga dan puas ketika anak didiknya mengerti yang dia ajarkan. Saya membayangkan bahwa ibuku, yang sudah berbahagia bersama Bapa di Surga, bangga kepadaku ketika saya melanjutkan sikap hidupnya yang sederhana, jujur, dan setia dalam hidupku bersama orang di sekitarku.

© © © © © © ©

Sejak hijrah dari Ponceng Kalo  ke Kefamenanu (1999) lalu ke Jogyakarta (2005) dan ke Jakarta (2006), liburan kali ini merupakan kesempatan keempat bagiku untuk cuti.  Tidak ada rencana istimewa yang kubuat untuk mengisi liburanku kali ini. Saya mengulangi tradisi yang telah lama kulakukan setiap kali saya pulang libur. Saya mengunjungi semua keluarga dekat dan akhirnya menghabiskan sisa waktu bersama orang tuaku di rumah apalagi kali ini tinggal ayah dan ibuku saja yang mendiami rumah kami karena kami bertujuh sedang meniti masa depan kami masing-masing di tempat yang berbeda, di luar Ponceng Kalo. Kunjungan keluargaku kali ini diwarnai oleh pengalaman unik yang berbeda dari sebelumnya.
Keluarga pertama yang kukunjungi adalah keluarga di kampung asal ibu kandungku yaitu ke Compang, kira-kira 1-1,5 jam dengan sepeda motor untuk mencapainya. Di sana saya menjumpai om Jhon sekeluarga dan om Noe sekeluarga. Kunjunganku kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya karena saya dapat berjumpa dengan om Pater Bone Buahendri, SVD yang kebetulan sedang cuti. Perjumpaan terakhirku dengannya terjadi 14 tahun lalu saat dia merayakan misa perdananya di Compang tahun 1998. Sejak saat itu dia menjadi misionaris di Australia dan masih akan ke sana seuasai cuti ini. Kegembiraan dengannya bersama semua anak-anak dan cucu-cucu dari Empo Kanisius Jale dan Angela Iwus semakin penuh terjadi dalam syukuran 20 tahun hidup religius beliau pada tanggal 15 Agustus 2012 yang lalu.  Dalam acara seperti itulah saya dapat bertemu dengan banyak keluarga yang sebelumnya tidak saya kenal. Itulah salah satu pengalaman istimewaku selama liburan ini.
Pada tanggal 5 Agustus 2012 saya mengunjungi keluarga mama kecilku, ingkoe Tin sekeluarga di Mejer, adik kandung ibuku. Dia mempunyai 4 orang anak dan semuanya laki-laki. Persis pada tanggal 5 ini anaknya yang pertama, yaitu kraeng Situs, mau menikah dengan istrinya. Saya dan ayahku turut melakukan acara wuat wa’i (mengantarnya ke rumah orang tua istrinya) untuknya dengan membawa seekor ayam jantan dan sejumlah uang. Turut kujumpai dalam kesempatan ini adalah Ambo dan Ovan, adik ketiga dan keempat dari Situs yang masih duduk di bangku SMA, sementara Jos, adik keduanya, masih di Makasar. Saya begitu senang menjumpai mereka dalam keadaan sehat walafiat.
Empat hari kemudian, persis pada hari padong (mengantar pengantin wanita ke rumah pengantin pria) Ifon, teman kelasku saat SD yang juga masih anggota keluarga dekatku, saya mengunjungi istri dan anak-anak dari pamanku, Hendrikus Hamnu di Heak, Lembor. Kuakui bahwa saya masih capek saat itu setelah sibuk selama 2 hari mengikuti acara perkawinan dan pestanya Ifon. Meski demikian saya tetap menikmati kunjunganku ke Heak karena saya sangat mencintai keluarga pamanku ini. Hanya saja dalam kunjungan kali ini saya tidak dapat bercerita lagi dengan emkoe Rikus karena setahun lalu dia telah dipanggil Tuhan. Kenangan akan kebaikannya menarikku untuk ke sana, untuk mendokannya sekaligus melihat dan mengunjungi keempat saudariku di sana. Sayangnya, dalam kesempatan ini saya tidak bisa berjumpa dengan ingkoe ende Lis karena dia sedang mengunjungi Lis yang baru saja melahirkan anaknya yang pertama di Joneng. Katarina dan enu Gonda juga tidak dapat kujumpai karena Kata sedang berada di Datak sementara Gonda masih di Bali, mengadu nasib. Kerinduanku terobati oleh sikap si bungsu, enu Thres yang ada di rumah saat itu. Dia merupakan anak kesayangan emkoe Rikus, yang dulu sangat manja. Sekarang dia telah berubah banyak. Dia membeli gula, kopi dan menghidangkan minuman ketika saya, Bona dan Limun tiba. Dia dan dibantu Limun dan ende Moni menyediakan makan malam dan sarapan pagi buat kami semua. Saya sungguh kagum dan bangga melihat perkembangannya meskipun saya sendiri tidak bisa apa-apa untuk membantu mewujudkan masa depan yang cerah baginya. Hal terakhir ini masih menjadi pergulatanku.
Dari Heak saya dan Bona menuju ke Inang Sisi, inang ine de Levi, adik bungsu ayahku di Nobo. Kedaanya baik-baik saja meskipun badannya sudah turun dibandingkan ketika saya menjumpainya 2 tahun lalu. Bisa saja itu terjadi karena usia sebagaimana yang dialami oleh ayahku juga. Meski demikian inangku masih kuat bekerja seperti dulu. Sekarang dia ditemani oleh Ima, anaknya yang kedua serta oleh ketiga cucunya, putera-puteri dari K’Levi yang rumahnya tidak jauh dari rumah inang. Sementara itu Goris anaknya yang ketiga baru saja pergi mengadu nasib di Kalimantan dan Mena, anaknya yang bungsu, menikah dengan orang dari Wersawe, kampung tetangga. Mereka sungguh sangat bergembira atas kunjunganku sebagaimana saya juga bersukacita menjumpai mereka semua dalam suasan keakraban yang sangat intens. Semalam bersama mereka seakan tidak cukup untuk mengingat semua pengalaman lama yang pernah kuukir bersama mereka ketika saya berlibur ke sini setiap kali liburan sekolah saat SD dulu atau waktu 2 tahun setelah SD dulu. Waktu yang singkat ini pun tidak cukup bagiku untuk mensharingkan dinamika perantauanku maupun lika liku panggilanku. Tapi tak mengapalah karena perjumpaan semalam telah mengobati kerinduanku selama ini dan kuyakini bahwa kenangan bersama mereka senantiasa awet.    
Buah dari kunjungan kelilingku langsung terasa  misalnya rasa puas yang disertai sukacita yang mendalam. Tidak akan kulupakan senyuman, pelukan, ciuman dan ucapan selamat datang yang mewarnai setiap kunjunganku ini. Ekspresi-ekpresi tersebut mengungkapkan kurang lebih ungkapan Bapa yang baik hati dalam Injil Lukas: “Saya telah lama menanti dan merindukanmu dan saya bahagia bertemu denganmu saat ini. Mari kita berpesta.” Maka tidak heran ketika sejumlah ekor ayam menjadi saksi sukacita besar ini.  Demikianlah sukacitaku sebagai seorang anak ketika disambut dengan hangat oleh orang tua dan keluarga. Rasa sakit selama 2 hari sebelum pulang ke Jakarta kumaknai sebagai sebuah pengorbanan. Sukacita yang besar nan sejati perlu dibarengi oleh pengorbanan yang besar serta pengelolaan diri yang tekun dan ulet.  Singkat cerita, sukacitaku tidak sebanding dengan “KO” dua hari di tempat tidur persis saat seluruh warga Indonesia merayakan HUT ke 67 kemerdekaan RI. Dalam tidurku kurenungkan nasib para pahlawan pejuang kemerdekaan berbanding terbalik dengan nasibku: mereka berkorban dulu demi sukacita kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia sesudahnya,……….bersambung……..
Jakarta, 30 Agustus 2012